Kegiatan yang dilaksanakan via live Instagram tersebut dihadiri oleh Dokter Spesialis Paru dr Fahmi Adhi Prasetya SpP. Fahmi menuturkan, belakangan banyak masyarakat yang mengikuti tren penggunaan minyak kayu putih maupun oil aroma terapi sebagai treatment untuk menjaga kesehatan saluran pernafasan. Termasuk memulihkan anosmia pada pasien Covid-19.
Namun tanpa pengetahuan yang cukup, hal tersebut justru berpeluang menimbulkan iritasi baik pada saluran pernapasan atas maupun bawah. "Di literatur belum (pernah) disebutkan minyak kayu putih diteteskan di hidung bisa menyembuhkan. Tetap harus dilihat manfaat dan risiko atau kekurangannya," jelas Fahmi.
Dia menjelaskan, memasukkan minyak kayu putih secara berlebihan ke saluran pernapasan berpotensi membuat cairan tersebut masuk dalam saluran pernapasan bawah. "Jika pasien memiliki riwayat alergi (pada minyak, aroma terapi) atau riwayat paru yang berat, saya anjurkan tidak dilakukan karena takutnya penyakit akutnya muncul kembali," terang dia.
Sebagai upaya perlindungan, Fahmi mengingatkan kembali penggunaan masker kain atau double mask dalam aktivitas sehari-hari. Kecuali tenaga medis, penggunaan masker tipe N95 tidak diwajibkan. Namun dia mengimbau agar masyarakat menggunakan masker sesuai dengan kondisi lingkungan sekitarnya.
"Untuk sehari-hari cukup menggunakan double masker. Kalau kita yang bekerja di ruang perawatan ya memang sarannya menggunakan masker yang belabel lebih tinggi (yaitu,Red) N95. Yang lebih aman secara teori ya N95 yang paling direkomendasikan, tapi harus tetap digunakan sesuai dengan standarnya,” ujar dokter spesialis paru itu.
Menjaga kesehatan organ paru, masih kata Fahmi, juga bisa dilakukan dengan mengurangi penggunaan rokok maupun vape. Efek keduanya sama-sama tidak langsung terlihat, namun berisiko menimbulkan kondisi yang sangat berat dalam jangka panjang.
“Vape pun hampir mirip dengan rokok konvensional, tidak aman digunakan. Karena nikotin yang dihirup baik konvensional maupun vape dapat menurunkan jaringan paru dan akhirnya menurunkan daya tahan tubuh terhadap infeksi akhirnya timbul penyakit paru," bebernya.
Efek rokok maupun vape pun tidak hanya berdampak pada penggunanya, melainkan juga mereka yang menjadi perokok pasif.
"Bisa dilihat di poli paru ya, pasien PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) atau pasien yang memang secara usia sudah masuk pediatrik. Akhirnya mereka merasakan kondisinya berat saat usia menua dan baru menyesal di belakang,” terang Fahmi.
Ada empat tips yang disampaikan Fahmi kepada masyarkat untuk menjaga kesehatan paru dimasa pandemi. "Katakan tidak pada tembakau, lindungi dengan vaksinasi, hirup udara bersih dan lakukan latihan fisik secara teratur," tutupnya.
Penulis: Safa Abrar Ramadhan Editor : Farik Fajarwati