Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perum Jasa Tirta 1 Minta Segera Ada Relokasi 1.500 Rumah ”River Side”

Mardi Sampurno • Kamis, 21 April 2022 | 21:31 WIB
DALAM BAHAYA: Pemukiman padat penduduk di Jodipan, Kecamatan Blimbing ini sebagian besar berlokasi di tepi Sungai Brantas. Pihak Jasa Tirta 1 sudah meminta mereka direlokasi. (DARMONO/RADAR MALANG)
DALAM BAHAYA: Pemukiman padat penduduk di Jodipan, Kecamatan Blimbing ini sebagian besar berlokasi di tepi Sungai Brantas. Pihak Jasa Tirta 1 sudah meminta mereka direlokasi. (DARMONO/RADAR MALANG)
MALANG KOTA – Warga Kota Malang yang menghuni rumah di tepi sungai (river side) siapsiap hadapi dua pilihan. Pertama rumahnya terseret banjir atau tenggelam dihantam longsor atau hijrah ke tempat yang lebih aman. Sebab Perum Jasa Tirta 1 (PJT 1) sebagai “penguasa” sungai telah memprediksi, sewaktu-waktu longsor dan banjir akan tiba

Bahkan prediksi PJT 1 berapa tahun lalu sebagian sudah terbukti. Salah satunya dua pekan lalu di Jalan Muharto Gang 5, Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang. Sebanyak tujuh rumah tergerus longsoran. Tak hanya di Muharto saja yang terancam dengan bencana longsor. Sepanjang daerah sempadan Sungai Brantas di Kota Malang yang berdiri bangunan rumah ikut terancam. Dalam hitungan PJT 1 ada 1.500 rumah river side.

Misalnya saja berdasarkan pantauan koran ini di salah satu kawasan yang masih menanti pembangunan plengsengan adalah pemukiman di Jalan Mayjen Sungkono RT 03/ RW 06, Kecamatan Kedungkandang. Di lokasi tersebut, wartawan koran ini menjumpai setidaknya ada puluhan rumah berdiri di sempadan sungai. Salah satunya terdapat rumah milik Ngalifah Wahyuningsih. Menurut wanita yang sudah tinggal di sana selama dua puluh tahun itu, saat hujan deras aliran sungai menjadi sangat besar. Namun, air biasanya hanya naik sampai anak tangga ke enam yang terletak tidak jauh dari rumahnya. ”Dulu pernah sampai naik, tapi tidak sampai menggenang atau banjir ke rumah,” ujarnya.

Sebenarnya, Ngalifah mengaku merasa khawatir dengan kondisi rumahnya. Terlebih, saat terjadi banjir. Oleh karena itu, dia berharap agar segera mendapat perbaikan. Menanggapi ketiadaan plengsengan di rumah Ngalifah, Ketua RT 03/RW 06 Yuli Isdarmianto mengiyakan. Dia menjelaskan, pembangunan plengsengan di kawasan dekat rumahnya memang hanya tersisa untuk rumah Ngalifah. Meski begitu, sebagian besar sudah dibangun Pemkot Malang. ”Jadi dari rumah yang pojok atas sampai musala sudah dipasang plengsengan. Tinggal musala ke arah bawah sampai rumah Bu Ngalifah,” sebutnya.

Yuli melanjutkan, dirinya pun tidak tinggal diam. Sejak dua tahun lalu, dia sudah melakukan pengajuan perbaikan plengsengan ke Pemkot Malang. Namun, prosesnya terhambat akibat pandemi. Sebagai informasi, rumah Ngalifah berada tidak jauh dari pertigaan Sungai Benguk dan Sungai Amprong. Berbeda dengan rumah-rumah di atasnya yang lebih tinggi dan berjarak tiga meter dari sungai, jarak rumah Ngalifah dengan sungai hanya sekitar 2 sampai 2,5 meter saja. ”Di sini, total ada 99 kepala keluarga dengan 306 jiwa. Dulu pernah banjir sampai naik ke lantai kurang satu meter, tapi sejak diikutkan ke Sungai Lesti di Wajak sudah tidak banjir. Paling airnya saja yang ngembung atau naik,” imbuh Yuli.

Selain Kecamatan Kedungkandang, kawasan sempadan sungai yang tergolong rawan di Kota Malang adalah Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen. Pada tanggal 8 April 2022 lalu misalnya, kawasan ini tidak luput dari banjir yang tingginya mencapai dengkul orang dewasa. ”Yang banjir tanggal 8 April itu tidak sampai membuat rumah rusak. Dan, sudah ada plengsengan juga. Kalau sebelum itu banjirnya besar,” ujar salah seorang warga bernama Suyono yang tinggal di Jalan Terusan Bogor Bawah. Suyono yang sudah tinggal selama 50 tahun di sana mengatakan pernah beberapa kali merasakan peristiwa banjir besar. Seperti, tahun 1992, 2004, dan 2021. (rb6/adn/abm) Editor : Mardi Sampurno
#Rumah Tepi Sungai #radar malang #Perum Jasa Tirta 1