Tahun lalu (tidak ada) karena pandemi tidak ramai seperti ini. Makanya dari gereja membuka dan mempersiapkan pelataran ini untuk temanteman muslim beribadah,” kata Pastur Rekan Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Romo Yoris kepada wartawan. Tahun ini, umat muslim yang mengikuti salat Idul Fitri di Masjid Agung Jami memang membeludak. Jangankan di dalam masjid, jumlah jamaah yang tidak tertampung di AlunAlun Malang juga sangat banyak. Bahkan meluber sampai tikungan Kajoetangan yang posisinya tepat berada di depan gereja.
Romo Yoris mengungkapnya, penggunaan halaman Gereja Kajoetangan untuk salat Idul Fitri oleh umat Islam sebenarnya sudah menjadi tradisi. Kebiasaan itu telah berlangsung selama puluhan tahun. Hanya dua tahun sebelumnya saja yang tidak terlihat lantaran terjadi pandemi Covid-19. ”Toleransi masih kuat di Kota Malang. Untuk melancarkan teman-teman muslim yang mau ibadah, kita sudah buka pelataran gereja mulai pukul 04.30 WIB. Kami juga siapkan alas gratis dari kaum muda Katolik di Paroki,” terang Romo Yoris.
Gereja Katolik Hati Kudus Yesus juga melakukan penyesuaian jam ibadah. Normalnya, pada hari Minggu, misa selalu digelar pagi hari. Tetapi, khusus tanggal 2 Mei yang bertepatan dengan Idul Fitri, pengelola gereja tidak menjadwalkan misa pukul 06.00 demi menghormati umat Islam yang salat Idul Fitri di pelataran gereja. ”Misa kita undur jam 12 siang,” tambahnya. Setelah ibadah umat Islam di Masjid Agung Jami berakhir, romo dan suster Gereja Katolik Hati Kudus Yesus turut berdiri di gerbang luar.
Mereka memberi ucapan selamat Idul Fitri untuk jamaah muslim yang baru saja selesai salat. Dia berharap, toleransi dan rasa saling menghormati antar umat beragama bisa selalu terjaga di Kota Malang. Hal senada diungkapkan Wakil Ketua II Takmir Masjid Agung Jami Mahmudi Muhith. Menurutnya, kebiasaan seperti itu berawal dari spontanitas dari takmir puluhan tahun lalu. ”Awalnya karena spontanitas saja. Sejak saat itu selalu pakai pelataran gereja untuk menyambut jamaah salat id tiap tahun. Bukan cuma yang gereja Katolik, GPIB yang tepat sebelah Jami juga kami pakai. Tiap tahun kami bersurat untuk memberi tahu akan ada salat, sehingga kami izin memakai area sekitar gereja,” ujar Mahmudi kepada Jawa Pos Radar Malang kemarin sore.
Toleransi itu bukan sepihak. Ketika ada perayaan Natal atau Paskah, GPIB Immanuel juga meminta izin memakai pelataran Masjid Agung Jami untuk menampung kendaraan jemaat Kristen yang merayakan hari besar di dalam gereja. Mahmudi menyebut bahwa spirit keberagaman ini sempat menarik perhatian dunia. ”Seingat saya empat tahun lalu, duta besar Australia dan parlemennya datang ke Malang untuk melihat toleransi antarumat beragama. Kami presentasikan bagaimana hubungan baik antara pengurus gereja Katolik, Kristen, dan masjid Islam berlangsung harmonis,” jelas Wakil Ketua PCNU Kota Malang tersebut. Salat Idul Fitri di Masjid Agung Jami Alun-Alun Merdeka sendiri diperkirakan diikuti oleh ribuan jamaah Malang. Wali Kota Malang Sutiaji dan jajaran OPD-nya hadir. Sedangkan, khotbah disampaikan oleh ulama Habib Achmad Jamal bin Thoha Ba’agil. (fin/fat) Editor : Mardi Sampurno