Dalam event yang digelar oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB) tersebut, Puskesmas Polowijen menawarkan inovasi Rumah Diapers.
Kepala Puskesmas Polowijen drg Ratna Yulia mengatakan, rumah diapers merupakan layanan klinik pengelolaan, pembersihan, dan pelatihan sampah popok. Program ini sudah dikembangkan sejak 2017 lalu. ”Dalam menjalankan program Rumah Diapers, kami tidak hanya melibatkan tenaga kesehatan (nakes) di puskesmas, tetapi juga masyarakat. Misalnya memberikan pelatihan soal cara membuang popok,” ujar Ratna, kemarin (7/6). ”Selain itu, kami juga menerima popok, baik dalam kondisi bersih maupun yang sudah diolah,” tambahnya
Diapers yang dikumpulkan oleh warga tersebut kemudian disetor ke puskesmas. Oleh puskesmas, setiap diaper bisa ditukarkan dengan uang Rp 250 rupiah. Sementara yang sudah diolah bisa diberikan dalam bentuk kerajinan seperti tas, vas bunga, hingga pot bunga. Namun, selama pandemi dua tahun belakangan ini ada perubahan. Hal ini diungkapkan oleh sanitarian Puskesmas Polowijen yang juga inisiator Rumah Diapers, Anita Resky Diningrum Suhardi.
"Sejak 2020 lalu, kami tidak lagi menerapkan minimal biaya tukar untuk diapers. Apalagi kami juga harus mengurangi kegiatan tatap muka. Akhirnya, banyak warga yang mengolah diapers sendiri karena mereka jadi sering beraktivitas di rumah," kata Anita. Anita menyebutkan, sampai saat ini ada 3 kawasan di wilayah kerja Puskesmas Polowijen yang sudah mulai menerapkan penggunaan popok kain. Yakni, RW 03 Kelurahan Polowijen, RW 03 Kelurahan Balearjosari, serta RW 01 Kelurahan Purwodadi.(mel/dan) Editor : Mardi Sampurno