Kepala BPS Kota Malang, Erny Fatma Setyoharini mengatakan ada 10 komoditas utama penyumbang inflasi bulan Juli. "Yang paling tinggi adalah Sekolah Menengah ke Atas. Yang terdiri dari tarif uang sekolah atau SPP dan juga uang pendaftaran sekolah mengalami kenaikan harga sebesar 11,45 persen dengan andil 0,12 persen," ujarnya.
Menurut Erny, hal ini terjadi karena pada bulan Juni-Juli merupakan bulan masuknya tahun ajaran baru, ditambah pembelajaran sekolah tatap muka. "Hanya tarif uang sekolah atau SPP dan sejenisnya saja, seragam sekolah tidak termasuk," imbuhnya.
Tak hanya SPP, berdasarkan kelompok pengeluaran, penyedia makanan dan minuman/restoran juga menjadi andil dalam inflasi, yakni 0,21.
Melihat fenomena itu, ekonom dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Joko Budi Santoso SE ME menilai, efek liburan sekolah memberikan dampak pada inflasi melalui kelompok penyedia makan dan minuman restoran. "Di saaat bersamaan dimulainya ajaran baru sehingga berdampak pada sumbangan inflasi dari kelompok pendidikan," ujarnya.
Tak hanya itu, tekanan inflasi juga datang dari kelompok transportasi akibat penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Kondisi ini ditambah dengan kenaikan harga tiket pesawat karena avtur dan airport tax meningkat. “Belum lagi tekanan inflasi dari kelompok bahan makanan dengan kenaikan sejumlah komoditas pangan seperti cabai, bawang merah, dan daging ayam ras,” kata ekonom yang juga peneliti senior Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi FEB UB itu.
Menurutnya, situasi inflasi ini dapat membahayakan daya beli masyarakat dan capaian pertumbuhan ekonomi. Karena itulah, pemerintah daerah harus sigap untuk terus memompa daya beli masyarakat dengan penguatan bansos, operasi pasar untuk sembako, agar daya beli masyarakat kelompok miskin dan rentan miskin tetap terjaga. "Selain itu belanja APBD, khususnya belanja modal, perlu dilakukan percepatan untuk membuka lapangan kerja dan menstimulasi perekonomian agar tetap memiliki energi untuk terus pulih," tandas dia (mit/abm) Editor : Mardi Sampurno