Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Konvoi Pendekar Berujung Tawuran dengan Warga

Mardi Sampurno • Senin, 8 Agustus 2022 | 16:50 WIB
BIKIN RESAH: Warga Ngaglik menunjukkan beberapa paving stone dan batu bata yang dilemparkan rombongan konvoi ke rumah-rumah warga kemarin.
BIKIN RESAH: Warga Ngaglik menunjukkan beberapa paving stone dan batu bata yang dilemparkan rombongan konvoi ke rumah-rumah warga kemarin.
MALANG KOTA- Semarak Agustusan warga Jalan Sudanco Supriadi di kawasan Ngaglik, Minggu dini hari (7/8), berubah menjadi keributan. Dipicu konvoi ratusan pendekar silat yang mengganggu ketenangan warga, tawuran pun terjadi di jalan penghubung Malang dengan Blitar itu. Beberapa orang terluka dalam kejadian tersebut.

Hingga kemarin siang, di dekat mulut Ngaglik Gang Es masih terlihat pecahan kaca memanjang 10 meter dari utara ke selatan. Sejumlah warga mengatakan, bentrok antara warga dengan rombongan pendekar kemarin terpusat di sisi timur jalan. Berdekatan dengan Gang Es dan Gang Kramat. ”Banyak yang menjadi korban. Setelah bertarung dengan warga, mereka (pendekar silat) menyerang warung pecel Ngalam yang ada di seberang,” terang Samsul Arifin, salah satu korban tawuran tersebut.

Dia menceritakan, tawuran berlangsung sekitar pukul 03.30. Saat itu Samsul hendak mengirim baju bekas atau dalbo ke wilayah Singosari, Kabupaten Malang. Pria 41 tahun yang tidak tahu menahu penyebab tawuran itu terkena pukulan dari rombongan konvoi. ”Pakai tiang bendera dari bambu, mereka memukul punggung dan tangan saya. Di dada bawah sebelah kiri kena pukul pakai linggis,” ungkap dia. Untungnya, karena membawa karung berisi baju, lukanya tidak parah.

Namun, dampak tawuran itu dirasakan betul oleh warga Gang Kramat. Ketua RT 008/ RW 003 Kelurahan Kasin, Kecamatan Klojen, Yuli Budiono mengaku menyaksikan langsung kejadian itu. Aksi anarkis oleh para pendekar silat itu langsung mendapat perlawanan warga yang sedang begadang sambil kerja bakti. Kebetulan sejak malam warga gotong royong mengecat gapura untuk perayaan HUT Arema sekaligus Agustusan. ”Sebenarnya sudah sejak pukul 11.00 siang mereka sudah mengganggu. Kemudian benarbenar tawuran sebelum azan subuh. Terjadi pelemparan batu sebelum jembatan,” terang dia.

Antara mulut gang dan perkampungan warga memang terpisah Sungai Kutuk yang dihubungkan jembatan sepanjang 10 meter. Oknum pendekar silat itu melakukan pelemparan batu ke rumahrumah warga. Untungnya, tidak ada kerusakan karena lemparan paving dan batu bata hanya mengenai tembok.

Amarah warga memuncak setelah dua warga kampung, Faisol, 20, dan Mustofa, 30, dikeroyok rombongan konvoi. Keduanya menderita luka memar di punggung karena dipukul linggis.

Yuli menjelaskan, rombongan pendekar itu pertama kali melintas di depan gang pada pukul 11.00 siang. Mereka berjalan dari arah utara ke selatan. Sedangkan saat dini hari, mereka kembali dari arah selatan. Beberapa orang dalam rombongan itu membawa senjata tajam. ”Ada yang bawa semacam parang, di gesek ke aspal jalan seperti menantang untuk berkelahi,” ungkap dia.

Pria berusia 51 tahun itu memperkirakan korban luka yang jatuh karena tawuran lebih dari 10 orang. Sebab, ketika tawuran memuncak di Gang Kramat, pemuda-pemuda gang lain dari sekitar perbatasan kecamatan itu ikut terjun untuk membalas pukulan.

Polisi baru tiba di lokasi kejadian sekitar pukul 04.30. ”Kami terjunkan sekitar 50 personel untuk mengamankan kawasan sekitar kejadian,” terang Kabag Ops Polresta Malang Kota Kompol Supiyan. Kronologi yang diterima polisi, rombongan yang berjalan dari selatan sempat menutup jalan dan menggeber-geber sepeda motor. Hal itulah yang membuat warga terganggu.

Dari catatan kepolisian, sekitar tiga orang menjadi korban. Satu orang dibawa ke IGD RSSA untuk mendapat perawatan. Dari beberapa pendekar yang diamankan warga, mereka mengaku bukan berasal dari wilayah Malang Raya. Sebut saja dari Pasuruan, Nganjuk, dan Semarang.

Gesekan antara warga dan rombongan pendekar silat yang disebut-sebut merupakan anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) itu tidak hanya terjadi di Ngaglik saja. Sejumlah sumber menyebut pertikaian juga terjadi di dekat SPBU Sukun dan Desa Ngebruk, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Kabarnya, rombongan tersebut baru menghadiri sebuah acara di Desa Karangkates, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang.

Terkait insiden tersebut, Ketua Dewan Cabang PSHT Kota Malang Eko Nurcahyo menegaskan oknum pendekar itu bukan dari kelompoknya. Sedikit dia menceritakan bahwa PSHT mengalami pecah kongsi pada 2016. Kini, kedua pihak sedang ”bertarung” di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), dan pada putusan Peninjauan Kembali (PK) tahun 2022, pihak Eko yang menang. ”Kami ada acara sendiri di Kecamatan Blimbing pada saat yang bersamaan. Kami tidak tahu acara di wilayah Kabupaten Malang,” ujar dia. (biy/fat) Editor : Mardi Sampurno
#tawuran #Keributan #Konvoi Pendekar Silat #ngaglik