Agresi itu juga dikenal dengan operatie product. Yakni mencari wilayah-wilayah yang produktif dalam bidang agraria. Salah satu sasarannya adalah wilayah Malang Raya . ”Waktu itu Belanda hancur akibat diserbu Jerman dalam Perang Dunia II. Untuk membangun kembali negaranya, mereka ingin menguasai sumber daya alam di bidang perkebunan,” ungkap sejarawan Universitas Negeri Malang (UM) Najib Jauhari.
Belanda merasa tidak cukup jika hanya menguasai kota-kota pelabuhan seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya. Mereka merasa perlu menguasai wilayah-wilayah lain, termasuk Malang, untuk memperoleh keuntungan yang besar dan menguasai aset ekonomi di perkebunan Pulau Jawa.
Alasan lainnya, Malang memiliki beberapa keistimewaan. Selain dikenal sebagai garnisun stadt (kota tangsi atau kota militer) dari sisi geografis, Malang juga memiliki senjata-senjata peninggalan tentara Jepang. ”Dalam penyerbuan ke Malang, tentara Belanda berangkat dari arah Gedangan, Sidoarjo. Mereka menggunakan tank dan pesawat,” katanya.
Namun penyerbuan Belanda ke Malang tidak dibiarkan mulus. Masyarakat dari berbagai elemen berupaya mencegah. Mulai dari para tentara pelajar, Gerakan Rakyat Kota (GRK), Badan Keamanan Rakyat (BKR), ibuibu, hingga kelompok santri seperti Laskar Hizbullah dan Laskar Sabilillah.
Serangan dimulai pada 21 Juli 1947 dengan bom. Untuk menghambat laju tentara Belanda yang sudah mencapai kawasan Lawang, muncul perintah melakukan bumi hangus dari pejuang dan pemerintah pada 22 Juli 1947. Dengan cara bumi hangus, masyarakat Malang bisa mengulur waktu untuk mengevakuasi diri ke kawasan lain. Sejumlah kawasan yang menjadi tujuan evakuasi antara lain Turen, Tumpang, hingga Malang Selatan.
”Pertahanan Malang yang kuat membuat Belanda tidak segera masuk, tapi menunggu pasukan dari Pacet dan Lumajang. Sehingga bersama-sama mereka menggempur Malang dari 3 arah pada 25 Juli 1947,” lanjut Najib. Dalam kurun waktu 10 hari, pasukan Belanda yang bergerak menuju Singosari bisa beberapa kali dipukul mundur kembali ke Lawang. Mengutip jurnal ”Kota Malang Pada Masa Agresi Militer Belanda I Tahun 1947” milik David Nurul Kharisma, Belanda akhirnya masuk ke Kota Malang pada 31 Juli 1947.
Sejak tanggal 21-31 Juli 1947, banyak hal terjadi di dalam Kota Malang. Seperti penjarahan di rumah-rumah di Kajoetangan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Ada juga perampokan di pabrik tenun hingga pembakaran rumahrumah dan pabrik milik penduduk Tionghoa di beberapa titik. Tak hanya itu, mereka juga menculik anak-anak dan perempuan Tionghoa untuk disiksa.
Digambarkan pula dalam buku Menjadi Tjamboek Berdoeri: Memoar Kwee Thiam Tjing, pada saat peperangan, baik penduduk maupun pegawai pemerintahan banyak yang mengungsi ke perbatasan. Akibat pendudukan Belanda, Kota Malang akhirnya lumpuh. Banyak juga para pejuang yang gugur, di antaranya dari kalangan tentara pelajar.
Peristiwa bumi hangus di Kota Malang akhirnya meletus pada 31 Juli 1947. Para pejuang yang tergabung dalam berbagai gerakan menyatukan tekad tanah air harus kembali ke tangan mereka, bukan Belanda. Strategi bumi hangus itu dinilai bisa membatasi gerak tentara Belanda yang ingin menguasai Kota Malang. ”Dulu ada 1.000 bangunan lebih yang dihanguskan, mulai rumah orang Eropa sampai gedung publik,” kata Sejarawan Kota Malang Dwi Cahyono. Pendiri Museum Inggil itu juga menjelaskan beberapa titik menjadi fokus strategi bumi hangus. Lokasi yang memanas kala itu terjadi di Celaket, Kajoetangan, Perumahan Ijen, dan Balai Kota Malang.
Para pejuang saat itu menilai beberapa titik tersebut bakal dijadikan markas tentara Belanda. Dengan hanya bermodal senjata seadanya, mereka mampu mengepung ribuan bangunan. Namun tidak semua fasilitas dibumihanguskan. Tempat ibadah seperti Gereja Kajoetangan dan Masjid Jami tak disentuh oleh para pejuang. Dari peristiwa bersejarah ini, juga muncul sosok pejuang dari pemerintahan, yakni Wali Kota Malang periode 1942-1945 Raden Adipati Ario Sam. Dia ikut turun ke medan pertempuran. ”Ya, Ario Sam ikut turun membantu para pejuang dengan sejumlah informasi pentingnya,” tandasnya. (mel/adn/fat) Editor : Mardi Sampurno