Dari pantauan di lapangan, kemacetan kini dirasakan di sekitar Jembatan Soekarno-Hatta yang mengarah ke Jalan Mayjend Pandjaitan. Sebelum pelaksanaan kuliah luring, jalanan di wilayah tersebut masih tergolong lengang. Kini pengendara harus lebih bersabar, terutama pada siang hari. Karena adanya peningkatan volume kendaraan. Baik mahasiswa yang akan ke UB maupun ke Polinema.
Data jumlah 450 ribu itu berdasar pengumpulan informasi wartawan koran ini dari berbagai sumber. Mulai dari Data Pokok Pendidikan (Dapodik), dan perkiraan jumlah mahasiswa perguruan tinggi di Kota Malang. Di Dapodik Kemendikbudristek, ada 157.042 pelajar jenjang SD-SMA/SMK di Kota Malang. Rinciannya untuk pelajar SD sebanyak 70.127. Pelajar SMP total 34.026, siswa SMA 34.026 dan SMK 33.436. Sementara perkiraan jumlah mahasiswa yang ada di Kota Malang sekitar 300 ribu. Jumlah itu berasal dari 5 perguruan tinggi negeri dan 57 kampus swasta di Kota Malang. Kampus penyumbang mahasiswa terbanyak yakni Universitas Brawijaya dengan total 72 ribu orang.
Dengan jumlah mencapai ratusan ribu tersebut, tentunya mobilitas pelajar yang membuat kemacetan tak bisa dihindari. Namun, ada beberapa langkah atau cara yang sudah dilakukan untuk mengurangi kepadatan. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Malang dan Universitas Brawijaya.
Pemkot Malang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) menyediakan angkutan bagi pelajar secara gratis, dengan nama Bus Halokes.
Kepala Disdikbud Kota Malang Suwarjana SE MM mengatakan, adanya transportasi ini sebagai salah satu cara mengurangi kemacetan ketika jam berangkat atau pulang sekolah. “Selain itu, bus antar jemput gratis ini juga dapat meringankan orang tua siswa dalam hal biaya transportasi,” tuturnya.
Ada enam rute yang disediakan oleh Disdikbud. Siswa hanya tinggal menyetop Bus Halokes pada jalur yang telah ditentukan. “Bus akan mulai berangkat pukul 05.45 WIB. Bagi masyarakat yang membutuhkan layanan bisa langsung menyetop sesuai jalur yang dilalui bus,” tutur Suwarjana.
Selain operasional Bus Halokes, Disdikbud juga menyediakan layanan antar jemput menggunakan Minibus ELF. Ada 9 rute yang dibuka dengan menggunakan moda transportasi tersebut. Sama seperti Bus Halokes, masyarakat juga cukup menyetop ELF pada jalur yang dilalui.
Sementara itu, UB yang memiliki mahasiswa terbanyak memberikan kebijakan khusus untuk mahasiswa baru. Yakni dilarang membawa kendaraan bermotor selama satu semester. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kepadatan di dalam maupun di luar sekitar kampus. “Karena mulai semester ini kuliah full luring. Aturan maba tidak boleh bawa kendaraan diterapkan kembali,” tutur Kepala Humas UB Kotok Guritno. Menurutnya, dengan aturan itu cukup berhasil mengurangi volume kendaraan. Baik di dalam maupun di sekitar kampus. (adk/abm) Editor : Mardi Sampurno