Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Guyangan, Kawasan di Tlogomas yang Dulu Tempat Memandikan Ternak

Mardi Sampurno • Senin, 12 Desember 2022 | 16:01 WIB
JEJAK SEJARAH: Sarianto, 64, menunjukkan lokasi yang pada masa lalu digunakan untuk guyangan (memandikan sapi). Saat ini, lokasi itu berupa sungai di sebelah jembatan kecil buatan peninggalan Belanda.
JEJAK SEJARAH: Sarianto, 64, menunjukkan lokasi yang pada masa lalu digunakan untuk guyangan (memandikan sapi). Saat ini, lokasi itu berupa sungai di sebelah jembatan kecil buatan peninggalan Belanda.
Jejak Nama Kampung-Kampung yang Unik di Malang Raya (8)

Kelurahan Tlogomas di Kota Malang menyimpan banyak peninggalan bersejarah. Situs kuno hingga benda-benda bersejarah banyak bertebaran di kawasan tersebut. Di era kolonial Belanda, Kelurahan Tlogomas disebut dengan istilah Guyangan karena menjadi tempat memandikan ternak.

SEBAGIAN besar nama kampungkampung di Kota Malang diambil dari istilah dalam Bahasa Jawa. Termasuk Guyangan, yang berasal dari kata guyang, dan memiliki makna menyiramkan air.

Mengutip situs Senarai Istilah Jawa yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Guyangan berasal dari kata guyang atau ngguyang. Artinya, memandikan ternak.

Demikian pula pada Toponim Kota Malang yang ditulis Ismail Lutfi bersama Reza Hudiyanto. Disebutkan, awalnya nama Tlogomas adalah Paguyangan. Dalam Bahasa Jawa berarti tempat memandikan ternak, terutama kuda. Nama Paguyangan turut didukung oleh kondisi kawasan Tlogomas yang tidak jauh dari sumber air. Di kawasan tersebut dijumpai struktur arung dan tempat untuk beraktivitas di pinggir sungai.

Pada masa pemerintahan kolonial, Desa Guyangan masuk dalam District Dau Afdeling Malang. Hal itu tercantum dalam Staatblad (lembaran negara berisi peraturan resmi) Nomor 16 tahun 1819. Lalu, pada peta yang dibuat Bosch pada 1923/ 1924, belum ada kawasan dengan nama Dinoyo-Merjosari seperti sekarang. Yang ada Ngelo, Karuman, Guyangan, Pelandungan, Marjoyo, Merjosari, Dinoyo, dan Ketawanggede. Seluruhnya merupakan nama dukuh (kampung kecil) kuno. Beberapa di antara nama dukuh tersebut tercantum pada prasasti-prasasti.

Dulu ada empat dukuh yang masuk dalam Desa Guyangan. Yakni Dukuh Guyangan, Dukuh Karuman, Dukuh Ngelo, serta Dukuh Watu Gong. Nama Guyangan juga tercantum dalam Oudheidkundig Verslag, Derde En Vierde Kwartaal 1923 (laporan Belanda tentang benda-benda purbakala).

Meskipun tidak menyebutkan asal-usul nama Guyangan, dalam laporan itu Pemerintah Belanda menulis Guyangan yang sekarang merupakan Tlogomas dengan sebutan Desa Goejangan. Data kependudukan yang ditulis koran Bataviaasch Nieuwsblad edisi 26 Mei 1911 menyebut jumlah penduduk Desa Goejangan mencapai 678 jiwa.

Cerita mengenai asal-usul nama Guyangan sebagai lokasi tempat memandikan hewan masih mengakar di masyarakat. Terutama bagi mereka yang tinggal di bekas Dukuh Guyangan selama puluhan tahun. Kini, bekas Dukuh Guyangan dikenal dengan kampung di RW 01, RW 02, dan sebagian RW 03 Kelurahan Tlogomas.

Salah satu yang mengingat asalusul nama Guyangan adalah Sarianto. Pria yang pernah menjabat sebagai Ketua RW 02 itu mengungkapkan, nama Guyangan memang merujuk pada lokasi yang digunakan masyarakat untuk memandikan hewan. Lokasi yang dimaksud Sarianto adalah Balai RW 01 di Jalan Tlogo Indah.

Dahulu, di depan Balai RW 01 terdapat tandon air. Tandon itu digunakan para petani untuk memandikan sapi. Tapi lamakelamaan ada juga yang memandikan kerbau hingga kuda. Tandon itu juga digunakan untuk mencuci.

Menurut Sarianto, dulu air yang keluar dari tandon sangat jernih. Ada pula bilik-bilik yang digunakan untuk mandi. Bahkan, dirinya pernah melihat seseorang memandikan orang gila di sana. ”Kalau menurut cerita kakek, bapak, dan paklik saya memang begitu. Saya dulu mandinya juga di sana,” kenang pria kelahiran 1958 yang tinggal di RW 02 sejak lahir itu.

Tak hanya tandon, sepengetahuan Sarianto, ada juga sumber air untuk memandikan hewan di depan Masjid Nurul Huda. Letaknya di Jalan Tlogo Indah Nomor 3, sekitar 1 menit dari Balai RW 01. Satu lagi tempat untuk memandikan ternak berada di perbatasan antara RT 4 dan RT 3/RW 2 dengan RW 3 (dulu Dukuh Watugong, sekarang jadi Kampung Wisata Watugong).

Di tempat itu ada jembatan yang menghubungkan RW 2 dan RW 3. Di bawahnya terdapat kali yang lebih besar dan dimanfaatkan warga untuk memandikan sapi. Dulu, di sungai itu masih banyak batu-batu besar dan jembatannya terbuat dari bambu.

Sarianto menambahkan, pada zaman dulu, sapi milik warga tidak hanya dimandikan. Tapi juga didata secara tertib setiap satu tahun. Istilahnya kemetiran. Guyangan pada zaman dulu juga masih didominasi sawah. Tidak seperti sekarang yang sudah berganti menjadi permukiman. ”Dulu saya masih bisa melihat lori pengangkut tebu dan punden di Guyangan,” imbuhnya.

Sumber air yang dulu terletak di depan Masjid Nurul Huda dipercaya ampuh dalam menyembuhkan berbagai penyakit. Salah satu yang meyakini hal tersebut adalah Mbah Sangat. Pria yang tinggal di Jalan Tlogo Suryo Nomor 27 itu menyatakan, sumber air itulah yang jadi cikal bakal Tlogomas.

Mbah Sangat mengungkapkan, awalnya sumber air itu berupa pemandian. Setiap orang atau hewan yang sakit bisa sembuh jika mandi di sana. Karena itu, ada orang yang menyebutnya sebagai Telogo Emas atau Tlogo Mas. ”Setelah tahun 1945 disebut Tlogo Mas. Jadi, dulu Tlogo Mas memang bermula di daerah Guyangan. Tapi sekarang dipersatukan dengan dukuh-dukuh lain,” tutur pria berusia 85 tahun itu.

Asal-usul nama Guyangan yang dipercaya berasal dari lokasi memandikan hewan ternak juga dituturkan dua tokoh yang pernah menjadi perangkat desa setempat. Salah satunya Supriyanto, lurah pertama yang memimpin Kelurahan Tlogomas pada 2000-2002.

Supriyanto sudah tinggal di Tlogomas sejak masih ada Dukuh Guyangan. Tepatnya pada 1956. Dia membenarkan kalau saat itu ada tandon air untuk memandikan hewan seperti kuda. Di Dukuh Guyangan juga sering ditemukan peninggalan sejarah seperti perabotan-perabotan kuno.

Hal yang sama diungkapkan mantan carik atau sekretaris desa yang bernama Sutrisno Zakariah. Dia mengatakan, lokasi yang menjadi tempat memandikan hewan ada di depan Balai RW 01 dan Masjid Nurul Huda. Bahkan, putra Sutrisno, yakni Yudi Hardianto, pernah mandi di bilik yang ada di depan Balai RW 01. ”Waktu zaman sekolah dulu, sekitar tahun 1992, masih ada bilik mandinya. Saya ya mandi di situ. Tapi sekarang sepertinya sudah tidak ada,” cerita Yudi.

Saat koran ini melakukan penelusuran ke dua lokasi yang dimaksud warga, bekas sumber air yang diyakini menjadi tempat memandikan hewan memang sudah hilang tak bersisa. Terutama di depan Masjid Nurul Huda yang kini padat permukiman penduduk.

Namun, di depan Balai RW 01 terdapat aliran air dari sungai. Masyarakat dapat melihat aliran air tersebut melalui tangga kecil yang terhubung dengan jalan setapak di bawahnya. Dari jalan setapak itu, tampak terowongan di bawah sungai.

Patirthan Raja

Versi lain asal-usul nama Guyangan dikemukakan arkeolog asal Malang Suwardono yang juga sering meneliti seputar toponimi di Kota Malang. Menurutnya, nama Guyangan berhubungan dengan bekas patirthan atau tempat mandi raja yang sekarang menjadi Tandon Air Dinoyo.

Pada zaman Belanda, patirthan yang merupakan peninggalan masa Kerajaan Kanjuruhan dan masa Kerakaian Kanuruhan itu ditutup oleh Belanda. Sebab, airnya berlimpah. Kini, air tersebut dimanfaatkan untuk PDAM sebagai tambahan air dari Jeding Princi.

Informasi turun temurun yang didapat Suwardono dari penduduk Tlogomas, sebelum ditutup oleh Belanda, di dalam tandon itu merupakan telaga. Di sisi telaga ada bata merah tebal. Dia meyakini, daerah itu disebut Guyangan karena dulu merupakan tempat mandi kalangan istana.

”Jadi, kata guyang bukan berkonotasi pada kuda atau kerbau. Di dalam Prasasti Kanuruhan tahun 935 M (prasasti Bunulrejo), saya menemukan bahwa salah satu pejabat di Watak Kanuruhan (setara kadipaten), yakni panghuyangan memiliki arti pejabat yang mengurusi tempat mandi raja,” bebernya.

Suwardono melanjutkan, secara harfiah guyangan memang berarti mandi. Namun dalam Bahasa Jawa baru lebih dikonotasikan pada hewan seperti kuda atau kerbau. Padahal, di zaman Jawa Kuno, kata guyang sering merujuk kepada aktivitas manusia yang sedang mandi.

Dari pemahaman tersebut, Suwardono menyimpulkan jika nama Guyangan berasal dari kata guyang yang mendapat akhiran ”an” yang berarti menyatakan tempat. Yakni tempat mandi. Hal tersebut cocok dengan kondisi lingkungan setempat di mana di sana terdapat situs patirthan. ”Namun, apakah patirthan itu dulu sifatnya sakral atau profan (tak terkait religi), itu tidak diketahui,” terangnya. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno
#kelurahan tlogomas #Guyangan #Situs kuno #Kota Malang