Nama itu juga dikaitkan dengan temuan gorong-gorong dari masa lampau yang berukuran lumayan panjang. Lokasi gua arung air atau goronggorong itu berada sekitar 300 meter setelah Kantor Kelurahan Bakalan Krajan, sebelum SDN Bakalan Krajan 1.
Cikal-bakal Kampung UrungUrung bahkan tercatat dalam prasasti Turriyan atau yang disebut juga prasasti Watu Godek. Dalam prasasti yang kini berada di Kecamatan Turen, Kabupaten Malang itu, tertulis ada salah satu pejabat Bakalan Krajan diundang dalam peresmian Desa Turyyan (Turen) sebagai sima swatantra atau desa bebas pajak. Pembebasan pajak itu merupakan hadiah dari Mpu Sindok (raja Kerajaan Medang periode Jawa Timur) karena masyarakat telah membantu kabuyutan (tempat yang disakralkan) dari serangan para pemberontak.
Artinya, pejabat Bakalan Krajan kala itu memiliki peran penting di mata Raja Mpu Sindok, sehingga namanya diabadikan dalam prasasti Turryan. Pejabat Bakalan Krajan yang tertulis dalam prasasti itu adalah Rakryan Gurung-Gurung. Pendiri Museum Reenactor Ngalam Eko Rody Irawan menjelaskan, di masa lalu, Kampung Urung-Urung dan Slilir merupakan satu kesatuan.
Menurutnya, ada kemungkinan bahwa kabuyutan yang dimaksud dalam Prasasti Turryan adalah gurung-gurung atau gorong-gorong yang terletak di Bakalan Krajan. Eko juga mengatakan bahwa gurung-gurung menjadi asal mula nama kampung UrungUrung. Gurung-gurung merupakan saluran gorong-gorong air di bawah tanah yang di atasnya digunakan sebagai jalan.
Lokasinya di dekat persawahan Bakalan Krajan. ”Dulu gorong-gorong air itu juga dijadikan warga sebagai sumber irigasi sawah. Awalnya cukup panjang, namun lama-lama semakin pendek karena terkikis,” ujarnya. Penulis buku Monografi Sejarah Kota Malang Suwardono mengaku mendapati aliran air dari gorong-gorong di Kampung Urung-Urung yang masuk ke tanah, dan ketika ditelusuri muncul kembali di Bakalan Krajan. Pada saat itu banyak warga yang merasa takjub melihat aliran yang unik itu. ”Saat pertama kali terlihat, panjangnya masih sekitar 25 meter.
Namun kini tinggal 15 meteran,” terangnya. Tak hanya dari cerita warga, dalam buku Toponim Kota Malang dijelaskan bahwa GurungGurung dalam Prasasti Turyyan juga disebut dalam kitab Negarakretagama pupuh ke-78 bait ke-4 Tahun 1365 sebagai Parung. Gurung-Gurung, Parung, dan Urung-Urung memiliki makna yang sama, diartikan sebagai tempat yang curam.
Catatan itu sesuai dengan posisi gotong-gorong tua Kampung Urung-Urung yang berada di bawah tebing setinggi tiang bendera dan tertutup pohonpohon bambu. Lebarnya tidak lebih dari satu meter. Alirannya memanjang dari perumahan warga hingga ke persawahaan. Aliran air dalam gorong-gorong itu berasal dari pecahan Sungai Metro yang melintasi Kelurahan Bakalan Krajan.
Sungai Metro dikenal sebagai salah satu awal dari peradaban kota Malang, karena peradaban berkembang mengikuti arus sungai. Pada zaman kerajaan, aliran Sungai Metro juga disebut dengan Tirta Amreta atau air suci. Pemberian nama air suci itu merupakan cara untuk melindungi sungai dari pencemaran akibat sampah yang dibuang warga.
Dengan menyebutnya suci, maka tidak ada yang berani membuang sampah di sungai. Cara itu juga digunakan kerajaan untuk mengajarkan ke rakyat bahwa air adalah sumber penting kehidupan. (*/fat) Editor : Mardi Sampurno