Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Capaian Investasi Kompak Meningkat

Mardi Sampurno • Rabu, 28 Desember 2022 | 16:20 WIB
MELEJIT: Sempat terpuruk akibat adanya covid-19 selama dua tahun terakhir, kini investasi di Malang Raya kembali melejit. (27/12).
MELEJIT: Sempat terpuruk akibat adanya covid-19 selama dua tahun terakhir, kini investasi di Malang Raya kembali melejit. (27/12).
Tiga Pemda Gencar Promosi dan Permudah Perizinan

MALANG KOTA – Sempat merosot karena pandemi Covid-19, investasi di Malang Raya kembali melejit. Tak hanya dari dalam negeri, modal yang datang dari luar negeri juga mengalami peningkatan. Kecuali di Kota Batu, meski belum mendapatkan penanaman modal asing (PMA), namun total investasi di Kota Wisata itu tercatat paling besar.

Di Kota Malang, pandemi Covid-19 jelas memukul kinerja investasi. Berdasar catatan Dinas Ketenagakerjaan-Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu (Disnaker-PMPTSP) Kota Malang, pada triwulan pertama 2021, capaian PMDN hanya Rp 46 miliar. Kemudian pada triwulan kedua Rp 89 miliar. Sementara yang tertinggi terjadi pada triwulan ketiga tahun, yakni Rp 117 miliar.

”Sementara itu, sampai triwulan ketiga 2022, capaian PMDN di Kota Malang sebesar Rp 427 miliar. Artinya ada peningkatan jika dibandingkan dengan 2021,” ujar Kabid Daldudatin Disnaker PMPTSP Kota Malang Roni Kuncoro kemarin (27/12).

Menurut Roni, sepanjang 2022 ada 427 proyek yang menyumbang capaian PMDN di Kota Malang.

Namun yang paling mendominasi adalah sektor perdagangan dan reparasi. Disusul dengan sektor konstruksi serta sektor industri hotel dan restoran.

”Untuk tahun 2022, yang memiliki andil besar memang sektor perdagangan dan reparasi dengan capaian senilai Rp 142,6 miliar,” kata pejabat eselon III B Pemkot Malang tersebut.

Roni menjelaskan, sektor perdagangan dan reparasi yang dimaksud merupakan kategori perdagangan eceran. Bukan mobil dan motor. Melainkan perdagangan eceran di toko, makanan, minuman, bahan bakar, peralatan informasi, hingga produk yang dijual di kaki lima. Sementara itu, PMA sepanjang 2021 tercatat Rp 29,5 miliar. Tahun ini, nilai PMA masih mencapai Rp 28,3 miliar. Namun angka itu merupakan capaian hingga triwulan 3. Masih ada potensi investasi pada triwulan 4 yang belum diakumulasi.

Sampai saat ini, hotel dan restoran tetap bertahan menjadi primadona bagi investor asing untuk berbisnis. ”Disusul oleh sektor perdagangan dan reparasi,” imbuh Roni.

Dengan kelonggaran yang sudah diberlakukan dan kasus Covid-19 yang semakin melandai, Roni berharap iklim investasi di Kota Malang bisa membaik. Untuk itu, pihaknya getol melakukan sosialisasi. Baik kepada masyarakat maupun pelaku usaha.

Tak hanya sosialisasi, pihaknya juga memberikan reward bagi pelaku usaha yang tertib. Terutama dalam mengurus perizinan atau laporan kegiatan penanaman modal (LKPM). ”Di samping itu juga penguatan pengawasan perizinan dengan tim gabungan perangkat daerah (PD) dan jajaran samping,” pungkas Roni.

Sektor Industri Tertinggi di Kabupaten

Capaian investasi di Kabupaten Malang juga mengalami peningkatan. Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Malang mencatat, pada sisi PMDN, sampai triwulan 3 nilainya sudah mencapai Rp 2,9 triliun. ”Sebagai perbandingan, tahun 2021 lalu PMDN tercatat Rp 1,09 triliun,” kata Kepala DPMPTSP Kabupaten Malang Subur Hutagalung.

Perbandingan itu menunjukkan peningkatan hingga 266 persen. Padahal capaian investasi tahun ini belum memasukkan potensi pada triwulan 4. Investasi sepanjang Oktober hingga Desember baru masuk pelaporan pada 10 Januari 2023.

Subur menerangkan, pertumbuhan terbesar terjadi pada triwulan dua. Tepatnya April sampai Juni. Penanaman modal yang masuk mencapai Rp 2,042 triliun. Sementara pada triwulan 1 ada modal domestik masuk sebesar Rp 86,7 miliar. Pada triwulan 3, total modal yang masuk Rp 772,9 miliar. ”Sektor industri mendominasi investasi dalam negeri,” ujar Subur.

National Single Window for Investment (NSWI) merinci lima besar sektor PMDN Kabupaten Malang. Industri kertas dan percetakan berada di posisi teratas. Kemudian ada investasi bidang transportasi, komunikasi, dan pergudangan. Diikuti investasi bidang jasa, industri makanan dan mineral non logam.

Di sisi lain, pertumbuhan investasi asing juga terlihat di Bumi Kanjuruhan. Pada 2021, modal asing yang masuk mencapai Rp 284 miliar. Sedangkan per triwulan 3, PMA Kabupaten Malang telah mencapai Rp 2,18 triliun. Dengan rincian, triwulan pertama Rp 373 miliar, triwulan dua Rp 536 miliar dan triwulan 3 Rp 1,27 triliun. ”Modal asing yang masuk pun banyak terserap di bidang industri,” sambung Subur.

Industri yang paling banyak menyerang modal asing adalah bidang pengolahan makanan. Kemudian, mengikuti di belakangnya investasi kimia dan farmasi, bidang tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan. ”Untuk meningkatkan investasi tentu perlu ada promosi potensi Kabupaten Malang. Ini dilaksanakan semua perangkat daerah. Tidak bisa parsial DPMPTSP saja. Promosi itu tentu harus dibarengi dengan percepatan perizinan,” tutup Subur.

Batu, Lima Tahun Rp 10 Triliun

Sementara itu, nilai investasi terbesar diraup Kota Batu. Sebagai kota wisata, Batu memang memiliki daya tarik bagi para investor. Utamanya yang bergerak di bidang pertanian, pariwisata, dan perdagangan. Tercatat mulai tahun 2018-2022, gelontoran investasi di Kota Batu mencapai Rp 10,9 triliun.

Pertumbuhan nilai investasi bisa dilihat dari data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Batu. Pada 2018 nilainya Rp 393,7 miliar. Lalu pada 2019 melejit menjadi Rp 1,8 triliun. Pada 2020 terjadi penurunan investasi akibat pandemi Covid-18. Nilainya Rp 928,4 miliar.

Pemulihan langsung terjadi pada 2021 dengan bukti kinerja investasi yang melejit ke angka Rp 3,1 triliun. Tahun ini, modal yang masuk kembali meningkat. Hingga triwulan 3 sudah mencapai Rp 4,3 triliun. ”Investasi yang masuk ke Kota Batu seirama dengan jumlah perizinan yang masuk. Sejak 2018 hingga triwulan 3 tahun 2022 ada 19.482 perizinan yang masuk,” terang Kepala DPMPTSP Kota Batu Muji Leksono.

Investasi modal dasar yang masuk pada 2022 berasal dari dua kategori. Yang pertama IUMK atau Izin Usaha Mikro dan Kecil. Seperti perdagangan dan jasa, tanaman pangan, penginapan, tempat makan kecil, dan lainnya yang mencapai 2.000 investor. Yang kedua dari Non-IUMK, khususnya pariwisata, seperti perhotelan, tempat wisata, restoran, kafe, dan lainnya yang mencapai 1.500 investor. ”Sementara ini yang masuk hanya dari modal dalam negeri. Belum ada modal asing yang masuk,” terangnya.

Muji menambahkan, banyaknya investasi yang masuk akan mendorong percepatan pemulihan perekonomian di Kota Batu setelah pandemi. Agar investasi yang masuk tidak memberatkan dan saling menguntungkan antara investor dengan dan masyarakat, Pemkot Batu telah menyiapkan Perda Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu. Payung hukum tersebut akan membuat investor yang menanamkan investasi di Kota Batu merasa lebih aman.

Begitu juga bagi masyarakat Kota Batu, Mereka di dorong agar tidak hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri.”Perda Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu sudah dilakukan pengesahan untuk keamanan investor. Sebaliknya untuk memberikan keamanan bagi warga Kota Batu juga telah dilakukan pembahasan Perda Ketenagakerjaan,” jelas Muji.

Perda Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu dibuat untuk menyederhanakan birokrasi perizinan berusaha dan penyesuaian konsep ketenagakerjaan dengan relevansi perkembangan zaman saat ini. Sedangkan dalam Perda Ketenagakerjaan, investor dan pemerintah daerah wajib memberikan pelatihan bagi pekerja. Selain itu juga wajib memprioritaskan warga Kota Batu sebagai bagian perusahaan tersebut.

”Lewat payung hukum yang ada, kami ingin investasi yang masuk tidak berakhir dengan adanya perselisihan, kecurigaan, dan saling menghambat,” pungkas Muji. (mel/fin/adk/fat) Editor : Mardi Sampurno
#Peningkatan Modal dari Investasi #Investasi di Malang Raya #penanaman modal #Investasi Naik