Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Penyandang Difabel Masih Kesulitan Akses Pendidikan

Mardi Sampurno • Rabu, 4 Januari 2023 | 01:00 WIB
SERIUS: Dua anak penyandang disabilitas belajar mengaji dengan  guru di Masjid Madinah, Kecamatan Lowokwaru kemarin sore (2/1).
SERIUS: Dua anak penyandang disabilitas belajar mengaji dengan guru di Masjid Madinah, Kecamatan Lowokwaru kemarin sore (2/1).
MALANG KOTA - Kesetaraan bagi penyandang disabilitas untuk mengakses pendidikan masih jadi persoalan yang harus diselesaikan. Realitasnya, masih ada sejumlah penyandang disabilitas yang belum mendapatkan hak untuk belajar. Bahkan parahnya ada sejumlah penolakan yang terjadi di masyarakat.

Tak peduli pendidikan formal maupun pendidikan formal, masih ada saja penolakan dari sebagian masyarakat untuk menerima penyandang disabilitas. Kepala Pengajar Pondok Disabilitas Masjid Madinah, Kecamatan Lowokwaru Resya Taufiqurahman mengatakan, masih banyak penyandang disabilitas yang tidak mendapatkan kesempatan belajar. Khususnya dalam mempelajari agama. Penyandang disabilitas sering kali tidak diterima karena alasan keterbatasan. ”Banyak murid saya dulu yang ditolak karena hanya ingin belajar Alquran bahkan tidak diberi kesempatan sama sekali untuk mencoba. Penyandang disabilitas masih dianggap sebagai seseorang yang harus dimaklumi karena tidak berdaya,” ucap Resya.

Di samping itu, kendala lainnya adalah tempat belajar Alquran khusus disabilitas di Kota Malang cukup terbatas. Alhasil para penyandang disabilitas yang hendak belajar harus terkendala jarak. Belum lagi jumlah guru yang telaten untuk memberi materi menurut Resya cukup terbatas.

Resya hanya ingin ada metode pengajaran khusus bagi penyandang disabilitas maupun pendamping. Dia juga menyampaikan bahwa penyandang disabilitas tidak menuntut untuk bisa, mereka hanya berharap diterima untuk bisa belajar. Meskipun begitu, banyak muridnya yang bisa membuktikan dengan berbagai prestasinya yang telah mereka peroleh.

”Prestasi yang diperoleh siswa saya Fahira dan Alfa dalam menghafal Alquran dan tilawah itu sebagai bukti bahwa disabilitas itu juga bisa,” jelasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Kepala SLB-B Yayasan Pendidikan Tunas Bangsa (YPTB) Alma Dewi Khasanah. Dia menyampaikan tantangan terbesar yang dihadapi anak disabilitas adalah mentalnya. Terutama saat menghadapi stigma masyarakat. Mental mereka berbeda dengan anak normal sehingga perlu adanya dukungan untuk membangun mental mereka lebih dalam. ”Kendalanya saat ini sekolah belum mampu melibatkan psikolog, karena memang perlu ada akses lebih,” terangnya. (kr2/adn) Editor : Mardi Sampurno
#hak belajar disabilitas #disabilitas #Kota Malang