Seperti yang diungkapkan salah satu pengunjung Alun-Alun Malang Aisyah Firdaus. Dia tak menyangka bangku di alun-alun jadi seperti ajang kemesraan. ”Tentu saja terganggu dengan pemuda-pemudi yang tidak tahu tempat itu, apalagi saya ini bawa anak-anak yang belum pantas melihat itu,” keluhnya.
Bahkan sempat media sosial (medsos) selama sepekan terakhir ramai membicarakan hal tersebut. Aisyah hanya bisa berharap Pemkot Malang bisa menindak tegas muda-mudi yang melanggar norma itu. Dari pantauan Jawa Pos Radar Malang kemarin (14/1) masih ada saja sejumlah muda-mudi yang tampak adu mesra di sana. Bahkan saat malam hari tiba, kondisi lampu taman yang remang-remang jadi kesempatan bagi mereka.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Teguh Santoso memperkirakan hal tersebut disebabkan penerangan Alun-Alun Merdeka yang dirasa kurang. Untuk itu, pihaknya merencanakan untuk menambah penerangan di ruang terbuka publik tersebut. ”Kami sudah siapkan anggaran Rp 921 juta untuk penataan penerangan,” ungkap Teguh.
Sayangnya, dia tidak mengingat jumlah lampu yang akan dipasang tersebut. “Yang jelas, kami tidak menggunakan panel surya, melainkan masih menggunakan listrik,” imbuhnya. Penataan penerangan tersebut tentunya untuk membuat Alun-Alun Merdeka semakin lebih baik. Namun, untuk mengurangi pemuda-pemudi yang menyalahi norma tersebut akan dia koordinasikan bersama Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP). “Tapi, Satpol PP juga terbatas. Mereka tidak hanya bertugas di alun-alun saja. Jadi, kami harapkan pemuda-pemudi itu lebih tahu tempat juga,” pungkasnya. (yun/adn) Editor : Mardi Sampurno