MALANG KOTA – Banjir di kawasan perumahan De Claster Nirwana Pandanwangi, Rabu lalu (8/2) mendapat perhatian serius dari Wali Kota Sutiaji.
Kemarin, 9 Februari 2023, orang nomor satu di Pemerintah Kota (Pemkot) Malang itu meninjau lokasi.
Dalam peninjauan tersebut, Sutiaji menginstruksikan pembongkaran bangunan di atas sungai. Bangunan tersebut merupakan eks pabrik karet.
Langkah itu ditempuh agar lokasi tersebut tidak dilanda banjir lagi. ”Pertama yang perlu dilakukan adalah membongkar bangunan di atas sungai. Kami lakukan dengan persuasif,” ujar Sutiaji.
”Ternyata mendapat izin dari pemilik," tambah alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang itu.
Sebelumnya, banjir yang terjadi di perumahan De Claster Nirwana Pandanwangi mengakibatkan sekitar 30 rumah terendam.
Baca Juga : Sering Banjir, Dewan Minta Normalisasi Kali Paron.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang menerjunkan perahu karet untuk mengevakuasi 15 warga terdampak.
Sutiaji mengatakan, pihaknya meninjau lokasi setelah mendengar laporan mengenai banjir yang sering kali terjadi di kawasan tersebut.
”Saya dapat laporan ini sudah tiga kali banjir, sehingga langsung saya telusuri penyebabnya," tutur Sutiaji.
Selain membongkar bangunan di atas sungai, Sutiaji juga berencana melakukan normalisasi sungai. Lokasi sungai tersebut tepat di samping perumahan De Claster Nirwana Pandanwangi.
"Semoga dengan dibongkar dan dikeruk, tidak terjadi banjir lagi," tuturnya.
Kalau pelebaran wilayahnya di BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai), nanti kami akan bersurat ke sana," terangnya. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Sementara itu, perwakilan pemilik bangunan eks Pabrik Karet Yudi Hartono punya pendapat lain.
Pihaknya mempersoalkan keputusan pemkot yang membongkar bangunan yang berada di atas sungai tersebut.
Sebenarnya Yudi ingin mengetahui apakah bangunan tersebut menjadi penyebab banjir, sehingga harus dibongkar.
"Kalau memang sudah dibongkar, terus banjir kan bukan salah pabrik ini berarti," kata dia.
Sebelum ada perumahan itu, lanjut Yudi, kawasan tersebut tidak pernah dilanda banjir.
"Dulu saat pabrik ini masih beroperasi, pemilik sering membersihkan sampah di kawasan sungai," jelasnya.
Baca Juga : Pembeli Perumahan Grand Emerald Minta Uang Kembali.
"Sekarang karena sudah tutup, ya tidak pernah dibersihkan lagi," bebernya. Menurut Yudi, pabrik karet itu tak beroperasi sejak 2015 lalu.
Terpisah, salah satu warga yang rumahnya terendam banjir, Topan menceritakan pengalamannya terkena banjir.
Dia pindah di perumahan De Claster Nirwana Pandanwangi pada 2017 lalu. Sejak itu, dia sudah mengalami empat kali banjir.
Namun yang terparah terjadi pada 2022 lalu. ”Kejadian yang kemarin ini (Rabu, 8/2) kerugian saya sekitar Rp 50 juta. Mulai kerusakan alat elektronik hingga mebel," tuturnya. (adk/dan) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana