Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Dian Kuntari mengatakan, ada tujuan mengapa tempe diusulkan menjadi WBTB. Salah satunya yakni karena di Kota Malang terdapat sentra pembuatan tempe di Kampung Tempe Sanan.
”Sisanya ada bakso dan jaran dor kami usulkan ke Pemprov Jatim,” beber pejabat eselon III B Pemkot Malang itu, kemarin (28/2).
Di tempat lain, Budayawan Kota Malang Dwi Cahyono menilai ketiga objek tersebut layak diajukan sebagai WBTB. Terutama keripik tempe yang diproduksi dari Kampung Wisata Sanan.
”Kalau keripik tempe dari Kampung Wisata Sanan saya rasa layak. Terlebih lagi keripik tempe tersebut sudah ada sejak 50 tahun lalu,” komentar pria yang akrab disapa Dwi Inggil tersebut.
Sementara dua objek lain harus melalui kajian yang lebih spesifik. Bakso asal Kota Malang misalnya, karena memiliki banyak macam perlu dipilih mana yang layak diajukan. Dwi menjelaskan, sebagai WBTB, objek-objek tersebut berbeda dengan cagar budaya yang bersifat tangible atau terlihat fisiknya.
”Selain tiga objek itu, Kota Malang sebenarnya kaya akan berbagai WBTB lainnya. Yang paling terkenal adalah boso walikan karena merupakan identitas,” sebut pria yang juga Ketua Asosiasi Museum Indonesia Daerah (AMIDA) Jawa Timur tersebut. (mel/adn) Editor : Aditya Novrian