MALANG KOTA - Kursi taman di Jalan Ijen akhirnya dibongkar. Pemkot Malang memutuskan bakal mencabut seluruh kursi di sana.
Prosesnya bakal dilakukan secara bertahap. Seperti banyak diketahui, polemik tentang kursi taman di sana mencuat setelah terjadi tindakan asusila.
Kabar itu bahkan sempat viral, Januari lalu. Setelah itu, pemkot melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyegel kursi di sana.
Itu dilakukan sejak awal bulan Februari. Penyegelan juga dibarengi dengan kajian apakah kursi masih diperlukan di taman-taman itu.
Kajian tersebut memakan waktu kurang lebih tiga pekan. Kepala DLH Kota Malang Noer Rahman Wijaya membenarkan kursi Jalan Ijen dibongkar.
Keputusan itu sudah memperhatikan untung dan rugi. Pihaknya juga sudah menampung saran dari berbagai pihak.
Baca Juga : DLH Punya Rencana Cabut Seluruh Bangku Ijen, Ini Penjelasannya.
Hasilnya, pencabutan dianggap sebagai langkah tepat, karena di kawasan Ijen belum ada fasilitas pendukung yang memadai. Seperti lampu penerangan atau PJU.
Dengan kondisi itu, dikhawatirkan tindakan asusila bakal terulang kembali. ”Kursi yang nanti dicabut tidak akan dibuang,” kata Noer Rahman.
Kursi itu akan dipergunakan di taman lainnya. Contohnya di Alun-Alun Kota Malang di Jalan Merdeka. Atau di Taman Trunojoyo.
Meski sudah dicabut, Rahman menyebut bila di sekitar Jalan Ijen bakal tetap dipasangi kursi. Desainnya dipastikan berbeda dengan yang ada saat ini.
Sayangnya, dia masih belum bisa menjelaskan desain yang terbaru itu. Sebab pihaknya masih harus melakukan kajian terlebih dahulu.
”Pemasangan kembali kursi di sana akan dibahas secepat-cepatnya akhir tahun 2023 dan selambat-lambatnya awal tahun 2024,” terang Rahman. (Bersambung ke halaman selanjutnya)
Yang pasti, kebutuhan anggaran untuk kursi baru itu akan dibebankan pada APBD 2024.
Sementara itu, dari pantauan wartawan koran ini kemarin (28/2), sudah ada empat kursi yang dicopot DLH. Keempat kursi itu dipindahkan ke Taman Bunga, Merjosari.
”Benar memang ada empat kursi yang kami copot. Sekarang dipindah ke Taman Bunga Merjosari,” tutur Kabid Ruang Terbuka Hijau (RTH) DLH Kota Malang Laode KB Al Fitra.
Untuk sisa kursi yang ada, dia mengaku belum tahu akan dipindahkan ke mana. Dia masih menunggu arahan dari pimpinan.
”Sementara masih empat yang dicopot, belum ada petunjuk lagi dari pimpinan,” terang Laode. Pemindahan itu, dikatakan dia, memang tidak dilakukan secara serentak.
Di tempat terpisah, Ketua Komisi C DPRD Kota Malang Fathol Arifin kecewa dengan kebijakan yang dibuat pemkot tersebut.
Baca Juga : Jadi Area Mesum, Jalan Ijen Harus Tambah Lampu.
Sebab kursi di Jalan Ijen sudah menjadi salah satu tempat favorit masyarakat. Seharusnya, menurut dia, ada cara lain yang digunakan DLH. Seperti melakukan penambahan PJU.
”Kalau memang kursi itu dibuat tidak baik, jangan kursinya yang dihilangkan. Ditambah penerangan sudah pasti orang yang aneh-aneh akan malu,” tutur Fathol.
Dia juga menyoroti langkah pemkot yang akan mengganti kursi di sana pada tahun 2024. Fathol menilai bila langkah itu akan membuat anggaran terbuang sia-sia.
”Kalau ditambahi penerangan tidak perlu beli kursi lagi, tidak repot membongkar juga,” tandas politisi PKB itu.
Sementara itu, warganet menilai kursi taman Ijen dibongkar akibat ulah segelintir pelaku mesum. Followers @jawaposradarmalang pada postingan 21 Februari 2023 lalu membenarkan.
"Sebenarnya hanya ulah segelintir orang, tapi imbasnya bikin semua merasakan tidak nyaman. Sayang juga anggarannya. Bangkunya juga masih bagus," kicau akun @erysusan******.(adk/by) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana