Apalagi, harga tanah yang semakin mahal menggoda para pemilik lahan sawah untuk menjual sawahnya.
Salah satu petani di Kota Malang Nanang Junaedi. Petani asal Kecamatan Sukun itu terpaksa menjual sawah seluas 1,5 hektare miliknya.
Meski belum laku, dia memiliki sejumlah alasan untuk menjual sawahnya.
|Baca Juga :
643 Hektare Sawah Berstatus Dilindungi
”Soalnya penghasilan petani juga tidak menentu apalagi saat cuaca tidak menentu seperti saat ini," kata Nanang, kemarin.
Nanang menambahkan kebijakan pemerintah pusat melakukan impor beras juga membuat harga beras lokal semakin turun. Apalagi penurunan harga juga merembet ke penghasilannya sekitar 10 hingga 30 persen setiap panen.
Nanang yang juga merupakan Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kota Malang menjelaskan untuk sekali panen membutuhkan waktu 4 bulan. Omzet kotor dari panen yang dia kantongi di angla Rp 18 juta hingga Rp 25 juta per hektare-nya.
Mayoritas petani anggota KTNA menutupi penghasilan yang kecil dengan cara mengolah hasil panen.
|Baca Juga :
Pemkot Pertahankan 407 Hektare Sawah Kota
”Seperti panen jahe dibuat permen jahe, kemudian padi, di-selep dan berasnya dikemas bagus agar menarik," terang dia.
Setiap tahunnya, Nanang menyebut lahan sawah di Kota Malang berkurang 4 hingga 5 hektare. Dan itu akan terus terjadi karena petani pasti tergoda untuk menjual tanahnya yang semakin mahal.
Untuk bantuan dari pemerintah pusat maupun daerah, Nanang menyebut sudah lebih dari cukup. Mulai dari pengurangan Pajak Bumi Bangunan (PBB) bagi warga yang mempertahankan lahan sawahnya hingga subsidi pupuk.
Namun tidak bisa dipungkiri harga tanah yang semakin mahal dan juga penghasilan petani yang tidak menentu pasti akan membuat petani menjual lahannya. (dur/adn) Editor : Aditya Novrian