Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Malang Nur Widianto mengatakan, dua keluhan tersebut tak hanya mendominasi selama dua bulan saja. Melainkan selama 2022 juga cukup mendominasi keluhan yang masuk ke Sambat Online.
”Kalau secara grafik yang terbanyak terkait infrastruktur dan perhubungan,” kata pria yang akrab disapa Wiwid itu, kemarin.
Apalagi kemacetan yang terjadi imbas penerapan satu arah Kajoetangan cukup dominan. Hal itu paling banyak dikeluhkan karena jalan di sekitarnya justru terimbas macet. Misalnya saja di Jalan Gatot Subroto maupun jalan lainnya.
”Ini tereduksi dengan uji coba satu arah yang saat ini berlangsung di Jalan Basuki Rahmat,” imbuh Wiwid.
Begitu juga dengan jalan rusak. Masih banyaknya lubang jalan memang kerap dikeluhkan warga. Apalagi beberapa waktu lalu sempat memakan korban di flyover Kedungkandang. Meski demikian, Wiwid menyebut jika ada laporan yang masuk pasti akan ada respons yang dilakukan perangkat daerah (PD) terkait.
Menanggapi itu, Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPRPKP) Kota Malang Surya Adhi Nugraha menegaskan pihaknya terus melakukan kontrol secara berkala terhadap titik-titik jalan yang rusak. Setiap ada aduan dari masyarakat, mereka berupaya memperbaiki secepatnya.
”Kebanyakan kerusakan jalan disebabkan oleh beban kendaraan yang melintas dan genangan air. Kerusakan yang timbul pun beragam,” jelas Surya.
Dengan demikian, penanganan yang diberikan pun beragam. Misalnya saja, ada jalan-jalan yang ditambal sementara untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Ada pula yang membutuhkan penanganan besar seperti overlay berlapis. Penanganan itu biasanya ditujukan untuk jalan nasional.
Hal yang sama juga diungkapkan Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang Widjaja Saleh Putra. Dia menyebut laporan kemacetan yang disebabkan uji coba satu arah Kajoetangan menjadi bahan evaluasi. Di samping itu, beberapa upaya juga sudah dilakukan seperti penempatan personel.
”Kalau kemacetan yang dikeluhkan di Kajoetangan Heritage itu kan sebenarnya tidak terjadi karena sekarang kapasitas jalannya semakin lebar,” tegas Widjaja. (mel/adn) Editor : Aditya Novrian