Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Eko Sri Yuliadi mengatakan, pihaknya akan menggenjot digitalisasi terlebih dahulu delapan pasar.
”Semua pasar yang sudah direvitalisasi kami upayakan menggunakan digitalisasi. Baru ketika itu sudah berhasil, kami terapkan di pasar yang lain," terang Eko.
Untuk mewujudkan hal tersebut, tentunya dibutuhkan adanya sentuhan teknologi. Namun sayangnya, menurut Eko, hal itulah yang justru menjadi kendala. Alhasil digitalisasi pasar sulit diwujudkan. Salah satunya keterbatasan akses internet.
”Permasalahan di lapangan teknis, jaringan internet. Selain itu pembeli cenderung masih bertransaksi secara konvensional. Alasannya karena tidak memiliki aplikasi QRIS," terang Eko.
Untuk permasalahan jaringan internet itu, dia menekankan, akan menambah kecepatan internet di pasar yang sudah direvitalisasi. Untuk menunjang percepatan digitalisasi.
Selain itu, Eko juga berharap ada kerja sama dengan Perguruan Tinggi di Kota Malang dalam hal digitalisasi ini. Pasalnya, ada 52 kampus di Kota Malang dan pemerintah membutuhkan kolaborasi dari masyarakat untuk peningkatan ini.
”Mahasiswa juga salah satu target, ketika sudah dilakukan digitalisasi ini. Karena 500 ribu-an lebih merupakan dari luar Kota Malang," tandasnya.
Terpisah, Ketua Komisi B DPRD Kota Malang Trio Agus Puwono menegaskan, di tengah gencarnya revitalisasi pasar, perlu juga diimbangi peningkatan pengelolaan pasar. Trio menilai, salah satu yang sekarang perlu ditingkatkan, yakni bagaimana mendorong pasar masuk ke ranah digital.
”Dengan adanya teknologi ini diharapkan lebih banyak menarik masyarakat berbelanja ke pasar," tuturnya.
Dia menjelaskan, teknologi bisa dimanfaatkan di pasar, baik untuk pemasaran produk, maupun juga untuk penarikan retribusi. Khusus untuk pemasaran dan penjualan produk, menurutnya, pedagang bisa diarahkan memanfaatkan marketplace. (adk/adn) Editor : Aditya Novrian