Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

13 Rumah Ambrol, 52 Warga Dievakuasi

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Minggu, 30 April 2023 | 21:17 WIB
DIEVAKUASI KE GEREJA: Beberapa rumah warga di Jalan Gempol Margabakti Gang 6, RT 6, RW 10, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun ambrol setelah terjadi longsoran, kemarin pagi.(Darmono/Radar Malang)
DIEVAKUASI KE GEREJA: Beberapa rumah warga di Jalan Gempol Margabakti Gang 6, RT 6, RW 10, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun ambrol setelah terjadi longsoran, kemarin pagi.(Darmono/Radar Malang)
 

MALANG KOTA — Kemarin pagi (29/4) sekitar pukul 06.30, Jumadi,
warga Jalan Gempol Margabakti Gang 6, RT 6, RW 10, Kelurahan Tanjungrejo, Kecamatan Sukun, berniat memperbaiki kompor di rumahnya. Rencana itu terpaksa dia urungkan setelah mendengar suara retakan dari tembok rumahnya.

Karena khawatir, Jumadi segera mengajak istrinya, Sri Sunarmi, untuk keluar rumah. Tak lama berselang, hampir separo bagian rumah mereka ambrol. Kasur, lemari, dan kompor miliknya hanyut ke derasnya aliran Sungai Metro.

Saat ditemui di lokasi kejadian, Jumadi tampak memandang rumahnya dengan senyum getir. Rumah bercat hijau muda itu sudah ditinggalinya selama lima tahun. ”Saya sebenarnya asli Trenggalek. Merantau ke sini untuk bekerja sebagai kuli bangunan karena lebih ramai proyek. Tapi kalau sudah begini sepertinya terpaksa kembali,” ujar pria berusia 50 tahun itu.

Meskipun menjadi kuli bangunan di daerah asalnya lebih susah, Jumadi tidak punya pilihan lain. Sebab, kondisi rumahnya sudah rusak parah akibat longsor. ”Padahal sebelumnya tidak pernah sampai seperti ini. Paling air sungainya hanya naik,” lanjut dia.

Jumadi bukan satu-satunya yang terkena musibah tanah longsor. Ada 15 kepala keluarga (KK) dengan total 52 jiwa yang ikut terdampak. Secara rinci, ada 13 rumah yang mengalami kerusakan, sementara dua rumah dalam kondisi waspada.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Malang kemarin pagi, sembari menunggu pihak berwajib dan bantuan datang, terlihat beberapa warga dibantu relawan sedang mengevakuasi barang-barang berharga yang bisa diselamatkan.

Tampak bagian yang mengalami longsor bukan berupa plengsengan. Namun hanya berupa padas. Longsor di sana berlangsung berturut-turut selama tiga kali. Longsor bermula dari rumah paling ujung milik Daiman hingga merembet ke sebelahnya. Longsor pertama pukul 07.00. Longsor susulan kedua pukul 07.30. Longsoran terbesar terhadi pukul 08.00.

Area tebing yang mengalami longsor mencapai panjang 55 meter. Tinggi dari bibir sungai hingga rumah warga sekitar 15 meter. Sudut kemiringannya sekitar 90 derajat. Dari total 13 rumah yang longsor dan dua rumah lain yang terdampak, tercatat ada 52 warga yang dievakuasi. Rumah milik Jumadi memang terdampak paling parah.

Lukas Pupus, salah seorang anggota Linmas setempat menyebut bila tanah longsor di sana memang sering terjadi. ”Terutama rumah-rumah di bagian atas. Seminggu bisa dua kali,” kata dia. Lukas melanjutkan, rumah-rumah milik warga memang dekat dengan bantaran sungai.
Jarak dari bibir sungai hanya satu meter. Sementara ketinggian dari dasar sungai ke permukiman warga mencapai 25 meter.

Lurah Tanjungrejo Muhammad Abdul Aziz yang ditemui di lokasi menjelaskan, lahan yang ditinggali warga itu merupakan milik Romo dari Gereja Kapel. Letak gereja tersebut tak jauh dari permukiman warga yang longsor. Luas lahannya sekitar 3 hektare.

Aziz menyebut, tahun lalu pemerintah dan anggota dewan sudah melakukan survei ke RT 6. Selain memberikan bantuan, juga berupaya memberlakukan kebijakan. ”Pernah disampaikan bakal ada relokasi, tapi masih proses. Memang di sini setiap musim hujan rawan longsor,” tuturnya.

Aziz menambahkan, untuk sementara warga yang terdampak longsor diungsikan ke gereja. Kebetulan di sana tersedia tempat dan halaman yang luas.

Menanggapi kejadian-kejadian longsor dalam beberapa waktu terakhir, Wali Kota Malang Sutiaji menegaskan bila pihaknya tetap memberi atensi kepada warga yang tinggal di sempadan sungai. Terutama mereka yang tinggal di rumah dengan kondisi tak layak. ”Itu menjadi prioritas. Bahkan, sudah masuk dalam usulan ke Kementerian PU melalui program KOTAKU,” kata dia.
Sembilan Kali Tanah Longsor dalam Sebulan

Sepanjang bulan April, BPBD Kota Malang mencatat ada 9 bencana longsor. Jumlah itu mengalami penurunan dibanding Maret lalu, dengan 14 kejadian. Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang Prayitno menyebut, mayoritas longsor itu terjadi pada permukiman yang berada di bantaran sungai. ”Sembilan kejadian ini termasuk Gempol tadi pagi,” tuturnya, kemarin.

Langkah kedaruratan yang dilakukan BPBD Kota Malang yakni dengan memberikan terpal kepada lahan yang terdampak. Kemudian bantuan berupa sembako untuk sedikit meringankan beban korban tanah longsor. ”Kalau bantuan berupa perbaikan material biasanya melalui Dinas PUPR,” sambung Prayitno.

Selain longsor, bencana yang sering terjadi di bulan ini yaitu pohon tumbang. BPBD mencatat, ada enam kejadian pohon tumbang. Dampak yang paling parah terjadi pada Senin lalu (24/4). Sebuah pohon sengon di Madyopuro menimpa tiga kendaraan. Dan menyebabkan dua orang terluka.

Terpisah, Pakar Teknik Pengairan Universitas Brawijaya (UB) Prof Dr Ir Muhammad Bisri MS menyampaikan, banyaknya permukiman yang berada di sempadan sungai memang berpotensi besar terjadi tanah longsor. Dia menyampaikan, sebenarnya pembangunan permukiman di pinggir aliran sungai ini diperbolehkan.

Namun ada aturan yang harus diikuti. Yakni Peraturan Menteri PUPR Nomor 28/Prt/M/2015. Di aturan itu, ada jarak minimal permukiman dari palung sungai (bagian terdalam pada sebuah sungai). ”Kedalaman sungai kurang dari tiga meter, jarak permukiman harus paling sedikit 10 meter, dari tepi kiri maupun kanan sungai,” kata dia.

Sementara untuk sungai dengan kedalaman 3 sampai 20 meter, permukiman harus berjarak paling sedikit 15 meter dari sisi kanan dan kiri sungai. (mel/rb2/adk/by) Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Ambrol #longsor #Kota Malang #BPBD #Bencana