Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kans Main Arema FC di Gajayana Menipis, Pemkot Malang Ingin Renovasi Menggunakan APBN

Yudistira Satya Wira Wicaksana • Senin, 7 Agustus 2023 | 18:00 WIB

 

Stadion Gajayana Kota Malang sulit untuk menjadi kandang Arema FC
Stadion Gajayana Kota Malang sulit untuk menjadi kandang Arema FC

MALANG KOTA - Kans Arema FC berkandang di Stadion Gajayana mulai menipis. Itu setelah Pemkot Malang memilih meminta bantuan pemerintah pusat untuk merenovasi stadion tersebut. Seperti banyak diketahui, Tim Singo Edan punya rencana berkandang di sana untuk gelaran Liga 1 musim ini.

Namun karena stadion tersebut belum memenuhi standar, perlu ada beberapa renovasi. Seperti penambahan single seat dan penambahan kapasitas penerangan. Manajemen Singo Edan sudah menyanggupi untuk melakukan renovasi tersebut. Mereka telah menyusun Rencana Anggaran Belanja (RAB) senilai Rp 11 miliar. Dokumen itu juga sudah diserahkan kepada pemkot.

Wali Kota Malang Sutiaji menuturkan, pihaknya sudah beberapa kali berkomunikasi dengan Kemenpora RI terkait perbaikan Stadion Gajayana. Perangkat daerah terkait, yakni Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang juga telah berangkat ke Jakarta untuk menanyakan langsung prosedur pengajuan renovasi.

Ditanya terkait peluang Arema FC bermain di Stadion Gajayana, setidaknya hingga akhir tahun ini, dia mengatakan bila kesempatan tersebut masih tetap terbuka. Bergantung pada keputusan dari pemerintah pusat.

”Jika proposal yang nanti diajukan ternyata ditolak pusat, bisa saja renovasi dilakukan Arema FC. Semua (kemungkinan) masih terbuka. Untuk saat ini, prioritas renovasi menggunakan dana dari pemerintah pusat,” papar dia.

Alasan pihaknya memprioritaskan renovasi dengan APBN karena cakupannya lebih luas. Dana yang digelontorkan bisa mencapai ratusan miliar. Itu seperti yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang.

Sementara itu, Kepala Disporapar Kota Malang Baihaqi mengatakan, pada awalnya pemkot mengajukan rencana pembongkaran total. Namun dari hasil komunikasi terakhir dengan Kemenpora, Stadion Gajayana kemungkinan besar akan dirombak. ”Kami sudah diskusi, kemudian diminta hitung ulang dan saat ini juga menyiapkan dokumen administrasi untuk pengajuan dana,” tutur dia.

Dari hasil komunikasi itu, diperkirakan pembangunan total membutuhkan biaya Rp 500 miliar. Sedangkan, kalau renovasi saja, membutuhkan biaya Rp 200 miliar. ”Kemungkinan renovasi besar, bukan dibangun ulang dari nol. Karena tidak mungkin dengan sisa waktu yang ada dan kemampuan APBN itu sendiri,” tambah dia.

Baihaqi menambahkan, renovasi besar Stadion Gajayana akan mirip dengan Stadion I Wayan Dipta Bali. Stadion yang digunakan sebagai kandang dari Bali United dan sudah berstandar internasional. ”Gambaran kami seperti I Wayan Dipta, renovasi berstandar internasional. Butuh sekitar Rp 152 miliar sampai Rp 200 miliar,” beber dia.

Secara teknis, renovasi itu mencakup perbaikan lintasan lari bertaraf internasional, penggantian rumput, kursi penonton, pengecatan total, dan penambahan tribun. Ditanya terkait waktu pengerjaan, Baihaqi mengaku belum bisa memastikannya. Sebab, proses pengajuan masih terus berjalan dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

”Tahapannya saat ini penyusunan proposal, kemudian akan kami kirim ke pusat. Selanjutnya ada proses audiensi, dan peninjauan lapangan,” kata dia. Setelah itu, Kementerian PUPR akan memutuskan nasibnya. Sebab anggaran untuk pembangunan fisik ada di sana.

Arema FC Siap Berkandang di Kapten I Wayan Dipta

Di tempat lain, General Manager Arema FC Yusrinal Fitriandi menyebut bila pihaknya sempat bertanya-tanya setelah mendengar rencana renovasi Stadion Gajayana menggunakan APBN. ”Namun, apa pun rencananya, kami pikir Pemkot Malang mempunyai sejumlah pertimbangan,” kata dia.

Dia sadar bila Stadion Gajayana adalah aset milik Pemkot Malang. Karena itu, keputusan untuk renovasi tetap berada di tangan mereka. Sejauh ini, dia menyebut belum ada pembicaraan lanjutan antara pihaknya dengan Pemkot Malang.

Ke depan, Inal memastikan bila Arema FC sudah mempunyai rencana apabila Stadion Gajayana benar-benar direnovasi menggunakan APBN. Salah satunya yakni tetap bermain di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Bali. ”Kami memang berencana berkandang di sini (Stadion Kapten I Wayan Dipta) di empat laga home saja. Tapi, tidak menutup kemungkinan untuk diperpanjang,” kata dia.

Fleksibilitas penggunaan Stadion Kapten I Wayan Dipta itu menjadi langkah antisipasi terhadap perkembangan situasi di Stadion Gajayana. Selain itu, kandang Bali United dipilih karena sejak awal sudah didaftarkan ke operator kompetisi PT Liga Indonesia Baru (LIB).

Menurutnya, setiap klub wajib mendaftarkan dua stadion sebagai homebase. Pertama adalah kandang utama. Kedua, yakni kandang alternatif untuk antisipasi hal-hal tak terduga. ”Kompetisi saat ini juga jalan terus. Kami harus menyiapkan alternatifnya, terlepas dari situasi Gajayana seperti apa,” imbuh dia.

Terus bermain di Stadion Kapten I Wayan Dipta punya hal positif dan negatif untuk tim. Positifnya, tim bisa bermain di stadion yang representatif untuk pertandingan sepak bola. Sedangkan sisi negatifnya, pertandingan kandang Arema FC masih akan terasa away. Selain itu, biaya operasional tim juga tetap tinggi. Untuk penginapan, sewa stadion, sewa tempat latihan, sampai membayar kebutuhan pemain.

Di tempat terpisah, Manajer Arema FC Wiebie Dwi Andriyas menyebut bila timnya tak bermasalah harus bermain di mana. ”Kami sudah ditetapkan bermain di sini sama manajemen klub. Toh, kalau pindah juga rumit nanti,” terangnya. Sebagai informasi, untuk bisa berkandang di Bali, Arema FC tidak hanya meminta persetujuan Bali United saja selaku pengelola Stadion Kapten I Wayan Dipta.

Mereka juga harus meminta izin kepada sejumlah pihak keamanan di Bali. Salah satunya kepada Polda Bali. Ke depan, dia masih punya harapan agar Arema FC bisa bermain di Malang. Menurutnya, atmosfer yang dirasakan tim tetap berbeda apabila bermain di kandang orang. ”Semoga Pak Wali beserta jajarannya bisa bertemu manajemen klub dan menemukan satu titik temu,” harap Wiebie.

Senada dengan Wiebie, Pelatih Kepala Arema FC Joko Susilo menerangkan kalau mayoritas pemain ingin kembali bermain di Malang. ”Pastinya harapannya adalah bermain di rumah sendiri,” kata dia. Selain lebih nyaman, itu juga bisa menghadirkan tekanan terhadap tim lawan. (adk/gp/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#Arema FC #gajayana