MALANG KOTA - Berbagai tempat sudah mereka kunjungi saat touring. ”Biasanya kami berangkat pisah. Kadang dua orang dulu berangkat, yang lain menyusul,” kata Wahyu.
Sebab, lanjutnya, setiap anggota memiliki kesibukan masing-masing, sehingga berangkat sesuai waktu luang mereka. "Tapi nanti di lokasi kami bertemu, bersama dengan anggota MACI dari kota lain,” imbuhnya.
Menempuh jarak yang jauh, dia mengatakan, sering kali motor masing-masing anggota mengalami trouble. ”Itu hal biasa. Kan kita bareng-bareng, satu mogok berhenti semua,” ungkapnya.
Tidak semua pemilik motor tua memiliki kemampuan mekanik, sehingga setiap rombongan diusahakan ada satu yang mengerti mesin. ”Seperti waktu pulang dari Bojonegoro beberapa waktu lalu, oli salah satu teman bocor sampai habis 14 liter,” ungkapnya.
Saat motor salah satu anggota MACI mogok, hari masih pagi menjelang subuh dan tidak ada bengkel buka. Akhirnya, oli tersebut diganti dengan minyak goreng. "Kami membeli minyak goreng dari minimarket," kenangnya sambil menahan tawa.
Pengalaman itu masih dia kenang. Sesekali juga menjadi bahan guyonan bersama teman-temannya di MACI Malang. "Karena bau asapnya jadi gurih," kelakarnya.
Cerita-cerita seperti itulah yang semakin mempererat kekeluargaan antar anggota MACI. Berawal dari orang-orang yang tidak saling kenal namun memiliki hobi yang sama, mereka rutin berkumpul layaknya keluarga. Dari MACI juga, mereka ingin mematahkan stigma tentang anak motor yang identik dengan kebut-kebutan. (dur/dan)
Editor : Mahmudan