The Lidos merupakan salah satu komunitas kreatif di Kota Malang. Desain boneka tiga dimensi (3D) yang dihasilkan selalu menyuguhkan karakter baru, berbeda dengan Barbie maupun Disney
PULUHAN anak muda yang berada di lantai 4 Malang Creative Center (MCC), Sabtu lalu (23/9) fokus dengan komputer masing-masing. Mereka membuat desain boneka tiga dimensi (3D). Ada yang sudah hampir jadi, ada pula yang baru sebagian.
Total ada 30 anak muda yang mengikuti workshop 3 D modeling. Acara itu digelar oleh komunitas The Lidos. Itu merupakan komunitas 3D Artist yang ada di Malang. Mereka berkumpul atas dasar kesukaan di bidang yang sama, yakni membuat model 3D dan animasi 3D. Lidos, diambil dari nama salah satu toko mainan di kawasan Kajoetangan.
Komunitas The Lidos terbentuk satu tahun lalu. Berawal dari 10 orang 3D artist yang bertemu di suatu event di MCC, kemudian bersepakat mendirikan komunitas. Kini terdapat sekitar 20 anggota aktif.
”Kalau artist kita ada sekitar 45 orang, tapi tidak semua fokus ke 3D modeling," kata Mike Yusak, anggota komunitas sekaligus koordinator event.
Sudah beberapa kali mereka berkolaborasi untuk menggelar pameran. Yang disuguhkan adalah karya-karya 3D. Festival Mbois 7 menjadi tempat pertama kalinya mereka berkolaborasi. Produk 3D yang menjadi karya mereka sebagian besar merupakan mainan dengan karakter yang baru.
Mike mengatakan, hampir semua produk awalnya merupakan 3D modeling. Seperti merchandise, kamera, sepatu, mobil, hingga rumah. Kemudian dicetak dengan 3D Printer.
Untuk itu kemampuan 3 modeling sangat dibutuhkan pada era ini. ”Kami juga membentuk EVA (Envelope Visual Atelier) yang fokus dalam workshop 3D modeling,” ungkap sarjana hukum Universitas Brawijaya (UB) itu.
Ke depan, pihaknya akan bekerja sama dengan beberapa lembaga untuk melaksanakan pelatihan 3D modeling. ”Dengan begitu, banyak kemampuan-kemampuan 3D modeling yang lahir dari Kota Malang,” kata dia.
Kebanyakan karya yang diciptakan oleh anggota komunitas The Lidos merupakan mainan dengan karakter yang baru atau antimainstream. Berbeda dengan mainan-mainan yang sudah memiliki pakem seperti Disney, Barbie atau mainan lain yang biasa ditemui di toko-toko. "Itu biasa disebut urban toy. Konsepnya melawan karakter mainan yang sudah ada," kata Mike.
Beberapa waktu lalu ramai di media sosial (medsos) mengenai mainan besar berwarna merah muda di depan Candi Prambanan. Mainan tersebut berbentuk seperti mickey mouse dengan ciri khas kedua mata yang terdapat tanda silang. Itu merupakan Kaws Figure, karya seniman sekaligus desainer asal Amerika Serikat. Kaws Figure merupakan salah satu contoh dari urban toy. "Saat ini urban toy sedang menjadi tren dan memiliki nilai jual yang tinggi," terang pria asal Jawa Tengah itu.
Sebab, dia mengatakan, urban toy menjadi media seni yang collectable, sehingga beberapa orang dapat memilikinya untuk dikoleksi.(dur/dan)
Editor : Mahmudan