Belakangan bermunculan warung kopi (warkop) yang menyuguhkan suasana alam, mulai tepi sungai hingga kolong jembatan. Udara sejuk ditambah suara gemericik air menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Warung dengan konsep tak biasa itu banyak diminati kalangan pelajar hingga mahasiswa.
ARAH jarum jam menunjukkan pukul 11.00. Puluhan muda-mudi duduk di tepi sungai sambil menyeruput secangkir kopi. Panasnya mentari tak terasa karena mereka bernaung di bawah pepohonan yang rindang.
Selain kopi, di antara mereka juga ada yang menenggak minuman dingin seperti es teh. Sementara camilannya adalah aneka gorengan. Mereka duduk menghadap air Sungai Brantas yang mengalir disertai suara yang gemericik. Itulah suasana yang terlihat di warung kopi (warkop) belakang Pasar Splendid, tak jauh dari Jembatan Van Riebeek Kahuripan.
Bagi pengunjung yang belum pernah ke sana, tentu akan kesulitan menemukan lokasinya. Sebab untuk menuju ke lokasi tersebut, pengunjung harus terlebih dahulu memasuki gang-gang kecil dengan jalan menurun yang curam.
Kebanyakan pengunjungnya merupakan pelajar. Itu terlihat dari seragam sekolah yang masih mereka kenakan. Beberapa juga mengenakan seragam Pramuka dan batik khas sekolah masing-masing.
”Tempatnya adem dan harganya juga terjangkau. Cocok untuk kalangan pelajar,” ujar Iqbal, siswa SMAN 6 Malang yang ditemui di lokasi.
Meski sekolahnya jauh, yakni di Jalan Mayjen Sungkono, Kedungkandang, Iqbal sering nongkrong di warkop dekat kolong jembatan Kahuripan. Itu karena semua menu dibanderol dengan harga terjangkau. Untuk minuman misalnya, rata-rata hanya Rp 5.000
Pengunjung lain, Silvia Hilda mengaku menyukai warung kopi tersebut meski baru pertama mengunjunginya. "Tapi ya capek karena tempat duduknya sedikit jongkok," tuturnya. Mahasiswi Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) tersebut biasanya nongkrong di kafe yang tempat duduknya lebih nyaman. "Tapi memang harganya juga lebih murah," kata dia.
Suasana sungai dan angin yang sejuk juga menjadi nilai lebih bagi Silvia dan teman-temannya. "Cocok untuk nongkrong," kata dia. Aliran sungai Brantas tersebut menjadi ciri khas yang menarik bagi mereka yang bosan dengan suasana warung kopi pada umumnya.
Selain itu, warkop serupa di Kota Malang juga ditemukan di kolong Jembatan Sulfat dan Jembatan Tunggul Mas di Kelurahan Tlogomas. Suasananya hampir sama. Yakni menyuguhkan kesejukan udara sungai sebagai daya tarik utama. Tentu saja harga yang ditawarkan juga terjangkau.
Selain di tepi sungai dan kolong jembatan, warkop lain yang tengah ramai di kalangan anak muda Kota Malang adalah warkop area pasar tradisional. Seperti Pasar Kasin, Pasar Tawangmangu, Pasar Klojen, dan Pasar Dinoyo. Setiap pagi akan terlihat muda-mudi yang menikmati kopi di sana. 'Ngopag' atau ngopi pagi menjadi istilah yang sering mereka pakai saat menikmati kopi di pagi hari.
Tak hanya tempat dan harga, warkop dengan konsep unik juga menjadi daya tarik tersendiri. Seperti yang ada di rooftop Semeru Art dan juga rumah tua di kawasan Kajoetangan Heritage.(dur/dan)
Editor : Mahmudan