Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Budaya Baru Anak Muda di Malang, Ngopi sambil Berkarya

Mahmudan • Minggu, 24 Desember 2023 | 19:05 WIB

SERIUS: Seorang pengunjung melukis di kertas putih yang tidak terbingkai.
SERIUS: Seorang pengunjung melukis di kertas putih yang tidak terbingkai.
 

 

 

Warung kopi atau kafe tidak sekadar ajang kongko-kongko. Belakangan ini, kafe menjadi ajang berkarya sekaligus meluapkan emosi. Itu seolah menjadi budaya baru kawula muda di Bumi Arema.

 

BEBERAPA anak muda ngopi sambil berkarya di sebuah kafe kawasan Jalan Joyo Utomo V, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang pada Jumat lalu (22/12). Tangan memegang kuas, menghadap kanvas di atas meja.

Aktivitas melukis itu ditemani camilan dan beberapa minuman ringan. Mulai minuman dingin seperti sirup hingga minuman hangat seperti kopi dalam gelas plastik. Dalam satu meja, ada hobi yang bersanding dengan secangkir kopi. Sambil berbincang, pandangan mereka tidak lepas dari kanvas yang sudah berisi gabungan garis-garis yang hampir membentuk sebuah gambar.

Di meja lain, beberapa remaja juga ngopi sambil berkarya. Bukan melukis, tapi menggambar. Alat yang digunakan bukan kanvas, tapi lembaran kertas tanpa bingkai. Tangan mereka sibuk mengarsir, bahkan beberapa sudah mulai mewarnai. Beberapa detik mereka terjeda karena mencomot camilan di depannya. Sementara mulut mengunyah, tangannya kembali melanjutkan gambar di kertasnya.

Lagu-lagu pop terbaru mengiringi para remaja tersebut. ”Saya mengerjakan ini sudah hampir dua jam. Mungkin masih lama lagi baru rampung,” ujar Muhammad Zulfikram, pengunjung yang ngopi sambil berkarya.

Mahasiswa UIN Maliki Malang itu memang hobi melukis. Dia tertarik berkunjung ke kafe tersebut karena menyediakan fasilitas untuk melukis. Dia sedang melukis gambar pemandangan dengan pegunungan dan pohon-pohon di bawahnya.

Najwa Salsabila, pengunjung lain yang duduk satu meja dengan Zulfikram mengatakan, dia menggambar mata dengan kombinasi warna oranye dan merah. Gambar tersebut terlihat nyata. ”Membayar Rp 16 ribu saja sudah mendapat kertas serta alat-alat lukis tersebut. Cat airnya dapat warna-warna dasar, nanti bisa refil kalau habis,” ungkapnya.

Najwa menyebutkan, itu merupakan pengalaman pertamanya datang ke kafe tersebut. Dia berencana akan datang lagi apabila suntuk dengan perkuliahan. Karena selama ini caranya membuang rasa jenuh akibat belajar ialah dengan menggambar tetapi sendirian. Dengan datang ke kafe tersebut, mahasiswa semester 4 Jurusan Bahasa Arab UIN Malang tersebut merasa memiliki teman yang juga melukis di sampingnya.

Bahkan ada juga pengunjung yang melukis secara berkelompok bersama teman-temannya. Seperti yang dilakukan oleh Tareq Kemal. Dia bersama sekitar 6 temannya tengah asyik bercanda dan melukis dalam satu kanvas.

“Ini tadi niatnya datang untuk ngopi saja, ternyata bisa sekalian melukis. Lumayan lah untuk mengetes kekompakan kita,” ungkapnya. Mereka merupakan anggota himpunan mahasiswa salah satu Prodi di Universitas Brawijaya (UB).

Secara bergantian mereka melukis objek pemandangan gunung. ”Sistemnya gantian. Ada yang memperbaiki dan merusak,” tuturnya dengan disusul suara tertawa teman-temannya. Selama satu jam mereka menyelesaikan lukisan tersebut dan membawanya pulang, “Untuk dipajang di ruang himpunan,” tutupnya. (dur/dan)

 

Editor : Mahmudan
#ngopi bareng #Kota Malang #komunitas