MALANG KOTA – Jumlah kebakaran di Kota Malang meningkat hampir tiga kali lipat, yakni 280 persen. Sepanjang 2023 lalu terdapat 210 peristiwa kebakaran. Sementara 2022 hanya 75 kasus kebakaran.
Kepala Operasional Pemadam Kebakaran Damkar Kota Malang Anang Yuwono memaparkan, meningkatnya angka peristiwa kebakaran dipicu musim kemarau panjang dan dampak fenomena El Nino. "Terutama pada bulan September dan November, angka kebakaran mencapai 50 kali kejadian," terangnya.
Sedangkan bulan lainnya paling tinggi hanya 16 kejadian. "Saat kemarau didominasi oleh kebakaran lahan. Pernah rekor sampai 7 kali dalam sehari," tambah Anang.
Dia merinci, kebakaran lahan paling tinggi, yakni menembus 96 kejadian. Sisanya bervariasi dari kebakaran rumah, toko, dan perkantoran. Angka tersebut naik jauh dari tahun 2022 dengan jumlah kebakaran lahan hanya sebanyak 7 kejadian.
Anang mengatakan, dampak musim kemarau ekstrem memang sangat terasa tahun lalu. Terutama menjadi sumber penyebab kebakaran. "Kadang ada masyarakat yang membakar sampah sembarangan. Kobaran api lalu tertiup angin, akhirnya merembet ke mana-mana," ujarnya
Sementara untuk penyebab kebakaran pada perumahan atau bangunan masih banyak disebabkan korsleting listrik dan kelalaian manusia. Seperti Instalasi listrik yang kurang bagus, sirkulasi udara dalam ruangan yang buruk, kabel yang dipasang tidak sesuai watt ataupun lupa mengecek sumber api sudah mati atau belum.
Dalam beberapa kasus, dia melanjutkan, ada beberapa yang penyebabnya belum diketahui. Dari pihak damkar sendiri juga belum mempunyai tim uji forensik kebakaran. Saat ini penyebab kebakaran digali dari olah TKP dan keterangan saksi.
Untuk menekan angka kebakaran, pihaknya terus menjalin koordinasi dengan pihak berwenang, relawan, dan masyarakat. Tujuannya agar memberikan informasi secepatnya jika terjadi kebakaran, sehingga penanganannya bisa maksimal. Untuk Estimasi kerugian selama setahun diperkirakan mencapai Rp 65 miliar. (pri/dan)
Editor : Mahmudan