Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Mengulik Aktivitas Remaja di Malang Main Free Fire

Mahmudan • Minggu, 21 Januari 2024 | 18:10 WIB

KOMPAK: Lima remaja duduk membentuk lingkaran di lantai dasar Cyber Mall Malang Minggu lalu (14/1). Mereka bermain game free fire.
KOMPAK: Lima remaja duduk membentuk lingkaran di lantai dasar Cyber Mall Malang Minggu lalu (14/1). Mereka bermain game free fire.
 

 

Remaja seolah tidak bisa lepas dari game. Para gamer yang tergabung dalam Komunitas Free Fire misalnya, mereka tidak hanya senang lantaran menjalani hobi. Namun juga merasa lebih bisa memainkan imajinasi.

 

PARA remaja memadati lantai dasar Cyber Mall Malang, Minggu lalu (14/1). Mereka bergerombol membentuk beberapa grup. Masing-masing grup beranggota sekitar lima personel. Semuanya sibuk mengoperasikan gadget.

Dengan mata tetap fokus memandang layar handphone masing-masing, mereka saling berkoordinasi untuk posisi dalam game free fire tersebut. Itulah suasana Turnamen Free Fire yang diadakan oleh Komunitas Free Fire Malang. Turnamen rutin tahun itu diikuti 200-an peserta.

Free fire merupakan salah satu game mobile yang bisa dimainkan secara individual maupun tim. Free fire juga merupakan game battle royale dengan tema tembak menembak. Setiap pemain harus dapat mengumpulkan senjata untuk mempertahankan diri dari serangan musuh. Pemenang game adalah mereka yang berhasil bertahan hingga akhir. Jadi, mau tidak mau setiap pemain atau tim dituntut saling mengalahkan lawan.

Salah satu game mobile yang juga serupa ialah PUBG. Namun free fire memiliki perbedaan dari segi visual yang tidak begitu terlihat realistis atau hidup. Grafis Free fire berupa animasi. Sehingga spesifikasi handphone yang dibutuhkan untuk bermain game lebih ringan. Sehingga sudah cukup menggunakan RAM 2 GB atau 4 GB saja.

Penggemar free fire kebanyakan pelajar atau remaja. Melalui game tersebut, mereka merasa lebih dapat memainkan imajinasi dengan grafis visual dari game tersebut. "Sekitar 90 persen anggota komunitas masih remaja," ujar Michael Alfaro, salah satu anggota komunitas sekaligus panitia turnamen.

Dia mengatakan, turnamen tersebut rutin diadakan oleh developer game karena ingin memberikan ajang kompetisi antar pemain game. Mereka tidak hanya datang dari Kota Malang, melainkan Surabaya dan Bandung. "Makanya turnamen digelar bergiliran setiap kota. Tahun ini Kota Malang jadi penyelenggara," kata dia.

Peserta yang ikut turnamen tidak dikenai biaya. Namun untuk memberikan rasa tanggung jawab kepada peserta, dia membuat merchandise dengan harga sekitar Rp 20 ribu. Wajib dibayar di awal dan diambil saat turnamen.

Dia mengatakan, bermain game di Handphone belakangan sudah menjadi rutinitas yang tidak dapat dipisah dari kehidupan anak-anak. Seolah-olah setiap jenjang umur memiliki game pilihan masing-masing, seperti free fire untuk usia remaja dan PUBG untuk usia lebih dewasa.

Tren tersebut sudah terjadi sejak 2018. Untuk memanfaatkan euforia tersebut, banyak pihak yang memanfaatkannya untuk mempertahankan para penggemar dengan cara mengadakan event-event terkait game online(dur/dan)

Editor : Mahmudan
#Kota Malang #free fire (ff) #Komunitas Game