MALANG KOTA – Pasar tradisional turut andil dalam menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sepanjang 2023, 26 pasar rakyat se Kota Malang menyetor retribusi Rp 7,45 miliar. Tahun ini realisasinya akan ditingkatkan lagi menjadi Rp 8,5 miliar.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskopindag) Kota Malang Eko Sri Yuliadi mengatakan, salah satu upaya untuk mengejar target realisasi Rp 8,5 miliar adalah memasifkan sistem e-retribusi. Yakni sistem pembayaran nontunai. Tujuannya untuk memudahkan pedagang untuk bertransaksi tanpa memikirkan kembalian yang kerap menjadi keluhan para pedagang.
Dari total 26 pasar tradisional, Eko mengatakan, baru 16 pasar yang menerapkan sistem e-retribusi. Kesemuanya merupakan pasar yang sudah direvitalisasi. ”Tahun ini terdapat tiga pasar yang baru selesai direvitalisasi. Yakni Pasar Madyopuro, Pasar Buku Wilis, dan Pasar Kebalen,” kata dia. “Rencananya, penambahan e-retribusi dilakukan di tiga pasar tersebut,” tambahnya.
Pihaknya berharap tahun ini dapat menambah lagi jumlah pasar yang akan direvitalisasi, sehingga potensi pendapatan retribusi menjadi lebih terpenuhi. Selain untuk meningkatkan pendapatan retribusi, dia mengatakan, revitalisasi pasar juga untuk menambah pelayanan kepada pedagang dan pembeli.
Sementara itu, Sekretaris Komisi B DPRD Kota Malang Arief Wahyudi mengatakan, retribusi dari pasar tradisional masih bisa ditingkatkan lagi. Salah satu caranya dengan memberikan pemahaman kepada pedagang agar rajin berjualan.
Karena, Arief mengatakan, selama ini penarikan retribusi dilakukan hanya saat pedagang membuka bedak. Bagi pedagang yang tutup tidak diwajibkan membayar retribusi. “Tingkatkan kualitas sarana dan prasarana di pasar tersebut. Dengan demikian akan meningkatkan minat pembeli untuk datang dan bertransaksi,” ungkapnya.(dur/dan)
Editor : Mahmudan