Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

17 Pilar Masjid Sabilillah Malang Melambangkan Kemerdekaan

Mahmudan • Jumat, 5 April 2024 | 19:50 WIB
DIBANGUN PEJUANG: Pilar Masjid Sabilillah masih kokoh meski dibangun pada 1968. Total ada 17 pilar, melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia.
DIBANGUN PEJUANG: Pilar Masjid Sabilillah masih kokoh meski dibangun pada 1968. Total ada 17 pilar, melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia.

“Masjid Sabilillah di Jalan Ahmad Yani, Blimbing menjadi simbol kemerdekaan. Desainnya melambangkan Pancasila. Masjid tersebut juga menjadi saksi perjuangan Laskar Sabilillah dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.”

NAHDIATUL AFFANDIAH

SEKILAS, konstruksi bangunan Masjid Sabilillah di Jalan Ahmad Yani, Blimbing, Kota Malang tampak biasa saja. 

Khas masjid di Indonesia pada umumnya. 

Ada menara dan kubahnya. 

Baca Juga: Ada Pemandian Sejak Zaman Belanda, Ini 4 Ide Wisata Liburan di Tumpang Kabupaten Malang

Tapi jika diteliti desain konstruksinya, masjid peninggalan KH Masjkur itu memiliki makna mendalam. 

Masjid Sabilillah mempunyai 17 pilar. 

Rinciannya, sembilan di bagian dalam, sedangkan sisanya 8 pilar berada di serambi. 

17 pilar itu melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia, yakni 17 Agustus. 

Lantai satu hingga atap setinggi delapan meter, melambangkan bulan delapan atau Agustus. 

Kemudian luas masjid, yakni 45 meter persegi, simbol tahun kemerdekaan Indonesia. 

Yakni 1945. 

Selain itu, jarak antar pilar sekitar lima meter. 

Itu sesuai jumlah sila dalam Pancasila. 

Juga sesuai jumlah rukun Islam. 

Sedangkan bentuk segi enam pada bangunan menara melambangkan Rukun Iman. 

Lalu garis tengah bangunan kubah dengan panjang 20 meter melambangkan sifat Allah SWT. 

Terakhir, pilar utama dalam masjid berjumlah sembilan, melambangkan jumlah wali songo yang menegakkan agama Islam di pulau Jawa. 

Tentu saja, konstruksi masjid yang sangat filosofis itu tidak dibuat sembarangan. 

Melainkan didesain dengan semangat perjuangan. 

Baca Juga: Empat Wisata di Malang Ini Serasa seperti Berlibur ke Luar Negeri, Ada Yang Mirip seperti Selandia Baru

Mulanya, masjid tersebut dibangun oleh KH Nakhrawi Thohir pada 1968. 

Namun pembangunan sempat macet, sehingga diteruskan oleh KH Masjkur, menteri agama (Menag) era Presiden Soeharto sekaligus panglima Laskar Sabilillah. 

Di tangan KH Masjkur inilah dilakukan perubahan desain, sehingga dibuat detail dan filosofis. 

”Desain ini untuk mengenang perjuangan Laskar Sabilillah,” kata Sekretaris Masjid Sabilillah Akhmad Farkhan ditemui di kantor Yayasan Sabilillah, Rabu lalu (3/4). 

Masjid tersebut memang dirancang menjadi bangunan monumental. 

Maklum, KH Masjkur merupakan tokoh pejuang Islam. 

Juga mempunyai hubungan erat dengan keluarga KH. Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU). 

Selain mendirikan masjid, KH Masjkur juga memiliki pemikiran bahwa santri harus memiliki kekuatan militer. 

Kekuatan itu diperlukan untuk meraih kemerdekaan Indonesia dari penjajahan. 

Hal itu diwujudkan dengan keikutsertaannya dalam mendirikan berbagai organisasi militer dan semi militer, seperti Pembela Tahan Air (Peta), Hizbullah, dan Sabilillah. 

Markas besar Hizbullah dan Sabilillah ada di Malang. 

Anggotanya terdiri atas kiai dan santri. 

”Jumlah pasukannya tidak terhitung pasti,” kata dia. 

Dia juga menjadi anggota BPUPKI-PPKI, dan berpartisipasi dalam Perumusan Piagam Jakarta. 

Berkat jasanya, saat ini Yayasan Sabilillah yang mengelola Masjid Sabilillah berkembang pesat. 

“Yayasan kami saat ini membawahi sekolah TK, SD, SMP, hingga SMA,” lanjutnya. 

Melalui pengembangan yayasan ini, keturunan dan jajaran pimpinan yayasan yang saat ini melakukan berbagai macam pengembangan. 

“Menyesuaikan dengan zaman. Jadi kita kembangkan terutama segi dakwah, pendidikan, dan ekonomi,” pungkasnya. (*/dan)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#malang #simbol kemerdekaan #masjid sabillah