KOTA MALANG - Keberadaan TPA menjadi penunjang terbesar dalam penilaian Adipura.
Karena itu, Pemkot Malang berupaya mengelola secara maksimal agar sampah yang masuk ke TPA Supit Urang semakin berkurang.
Kabid Persampahan dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Dwi Wiyono mengatakan, per Februari lalu sampah yang masuk ke TPA sekitar 540 ton.
Sementara pada bulan sebelumnya masih mencapai 600 ton sampai 770 ton.
”Ini karena sebelumnya banyak orang-orang dari luar Kota Malang yang membuang sampah di TPA Supit Urang,” katanya.
Baca Juga: Kota dan Kabupaten Malang Terancam seperti Kota Batu, Adu Terobosan Perpanjang Umur TPA
Namun, saat ini sistem pengolahan sampah di TPA diubah.
DLH melakukan pengaturan kendaraan pengangkut sampah yang masuk ke TPA Supit Urang.
Hanya kendaraan yang memiliki izin saja yang bisa membuang sampah.
Misalnya saja, 50 truk sampah milik DLH dan 11 truk sampah Diskopindag Kota Malang.
Selain pengaturan terhadap kendaraan pengangkut sampah, pihaknya juga berencana melakukan komersialisasi pada produk-produk di TPA Supit Urang.
Pertama adalah kompos.
Berdasar hitungan sementara, kompos rencananya dijual dengan harga Rp 500 per kilogram.
Lebih murah dari di pasaran sekitar Rp 800 per kilogram.
”Setiap bulan, kami bisa menghasilkan kompos sebanyak 15 ton. Jadi bisa menyumbang sekitar Rp 12 juta,” sebutnya.
Selain kompos, ada produk daur ulang plastik yang biasanya dijual lagi oleh pemulung.
Meski demikian, konsep ini masih disampaikan ke Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Malang.
Tak hanya memperkuat pengelolaan TPA Supit Urang, DLH juga bakal memperkuat peran masyarakat.
Misalnya saja, dari Bank Sampah.
Baca Juga: Evaluasi Instruksi Presiden Saat Peresmian, Pj Wali Kota Malang Tinjau TPA Supit Urang
Beberapa waktu lalu, Bank Sampah dikunjungi perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
”Mereka ingin mereplikasi pengelolaan sampah di Bank Sampah,” imbuhnya.
Kemudian, ada pembinaan terhadap bank sampah unit.
Saat ini, ada dua bank sampah unit di masyarakat yang berperan kuat, tepatnya di Kelurahan Gading Kasri dan Kelurahan Rampal Claket.
”Keberadaan bank sampah ini di samping menjaga lingkungan juga membantu meningkatkan ekonomi masyarakat,” ucapnya. (mel/adn)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana