MALANG KOTA – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang mengungkap ada 21 hewan kurban berpenyakit. Hal itu diketahui setelah pemeriksaan hewan di 94 lokasi rampung pada Kamis lalu (13/6)
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dispangtan Kota Malang drh Anton Pramujiono mengatakan, hewan kurban yang sakit tersebut didominasi kambing. Penyakitnya pun beragam. Di antaranya diare, radang telinga (otitis), mengeluarkan cairan dari hidung (rhinitis), testisnya tidak sama (monorchid), pincang, dan tanduk patah.
Selain itu, juga ada yang mengalami telinga robek, luka di kepala, dan telinganya keropeng (orf). "Satu lagi sapi yang menderita lumpy skin disease (LSD) atau cacar," kata Anton, kemarin (15/6).
Dia mengatakan, total ada 4.132 ekor hewan kurban yang diperiksa. Terdiri atas 267 sapi, 3.638 kambing, dan 227 domba. Hasilnya, 21 ekor sakit dan 4.111 ekor dalam kondisi sehat. "Seluruhnya diperiksa menggunakan metode antemortem (sebelum disembelih) dan sesudah disembelih (postmortem)," kata Anton.
Pejabat eselon III B itu melanjutkan, setelah diketahui ada hewan kurban yang sakit, pihaknya memberi sejumlah rekomendasi. "Kami bilang kepada penyedia hewan kurban untuk memisahkan hewan yang sehat dengan yang sakit. Tujuannya agar tidak terjadi penularan," terangnya.
Sementara untuk hewan yang sakit tetap diserahkan kembali ke pemiliknya. Hanya saja, dia mengatakan, dalam pengobatan hewan yang sakit tidak boleh diberi obat-obatan yang memengaruhi penyembelihan. Salah satunya adalah antibiotik. (mel/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana