Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Disporapar Kota Malang, Pupuk Nilai Gotong Royong lewat Nyanyian dan Dolanan

Bayu Mulya Putra • Senin, 22 Juli 2024 | 22:35 WIB
RUTIN TIAP BULAN: Sejumlah anak di Kelurahan Wonokoyo, Kecamatan Kedungkandang menjalani dolanan den den sawah, 17 Juli lalu.
RUTIN TIAP BULAN: Sejumlah anak di Kelurahan Wonokoyo, Kecamatan Kedungkandang menjalani dolanan den den sawah, 17 Juli lalu.

Sempat mati suri karena Pandemi Covid-19, festival dolanan tradisional mulai banyak bermunculan. Pemkot Malang dan pegiat kampung menjadi salah satu dalangnya. Masyarakat terbukti antusias dengan hadirnya event tersebut.

Bermain di bawah terang bulan purnama menjadi kebiasaan anak-anak zaman dulu dalam mengisi waktu luang.

Saat cahaya dari lampu belum sebanyak sekarang, padang bulan menjadi pengganti sumber cahayanya.

Untuk mengenang momen lawas tersebut, tiap tanggal 13,14 dan 15 Hijriah Pemkot Malang menggelar Festival Padhang Bulan.

Tempatnya berpindah-pindah kampung.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kota Malang Baihaqi menyebut, festival itu pertama diadakan pada 2019.

Karena pandemi Covid-19, event itu sempat terhenti.

Dan, akhirnya dimulai lagi pada akhir 2023 lalu.

”Sebenarnya tujuan utamanya untuk meningkatkan daya tarik wisata,” tuturnya.

Dia sadar bila Kota Malang tidak memiliki destinasi wisata alam.

Seperti pegunungan di Kota Batu atau gugusan pantai di Kabupaten Malang.

Karena itu mereka mencari cara untuk menambah daya tarik wisatawan datang ke Malang.

Tercetus lah ide melestarikan budaya-budaya lokal dengan Festival Padhang Bulan tersebut.

Di dalamnya, ada penampilan budaya mulai dari nyanyian hingga tarian.

Yang paling diminati memang permainan tradisional.

”Tidak disangka ternyata antusias masyarakat sangat bagus,” tuturnya.

Sehingga festival tersebut terus diadakan tiap bulan hingga saat ini.

Alasan lain tercetusnya festival itu karena keresahan terhadap banyaknya anak-anak yang kehilangan kedekatan dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.

Permainan seperti egrang, dakon, terompah panjang, dan juga permainan tanpa alat seperti ular naga kerap dijajal.

Permainan-permainan tersebut cukup baik untuk memupuk nilai kerukunan dan gotong royong.

”Dari mulai mengangkat atau memindahkan alatnya saja sudah bisa membuat anak semakin kompak dengan teman-temannya,” imbuhnya.

Nyanyian-nyanyian yang dilantunkan juga mengajarkan hal-hal positif.

Seperti lagu berjudul Sugeng Enjang.

”Itu lirik lagunya sangat mendidik. Yen esuk sugeng enjang, yen awan sugeng siang. Ditimbali matur dalem, diparingi matur nuwun,” ucap Baihaqi menirukan lirik lagu tersebut.

Hingga pertengahan 2024 ini, sudah lebih dari 10 kampung yang menjadi venue digelarnya Festival Padhang Bulan.

Seperti Kampoeng Kayutangan, Kampung Tridi dan terbaru di Kelurahan Wonokoyo, Kecamatan Kedungkandang.

”Ini harapannya bisa menjadi pemantik dan tidak hanya berhenti saat festival saja,” imbuhnya. (dur/by)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#dolanan #disporapar kota malang #gotong royong #Nyanyian