Setiap hari Sabtu, beberapa anak di Kampung Budaya Polowijen, Kecamatan Blimbing, Kota Malang bakal berkumpul.
Pada hari itu lah mereka rutin berlatih dan memainkan beberapa permainan tradisional. Isa Wahyudi, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kota Malang sekaligus Penggagas Kampung Budaya Polowijen menyebut ada 30 anak yang rutin berlatih.
”Terdiri dari 20 perempuan dan 10 laki-laki,” kata Ki Demang, sapaan akrabnya.
Salah satu yang sering dimainkan mereka yakni dolanan jamuran.
Dulu, permainan tradisional yang kabarnya berasal dari Jogjakarta itu lebih sering dimainkan anak perempuan.
Permainan lain yang biasa dilakukan di sana yakni cublak-cublak suweng.
Yang mana dimainkan minimal enam orang. Satu orang bertugas menemukan suweng atau anting.
Biasanya disimbolkan dengan batu yang disembunyikan oleh salah satu pemain.
”Mereka menyanyikan lagu cublak-cublak suweng sembari memutar batu itu diiringi musik,” jelas Ki Demang.
Selain dolanan tradisional, anakanak di sana juga aktif berlatih kesenian tradisional.
Salah satunya yakni kesenian jaranan. Dalam waktu dekat, Ki Demang berencana menggelar festival itu lagi.
Namun, lokasinya tidak di Kampung Budaya Polowijen.
”Rencananya akan kami gelar di Kampung Putih (Klojen) pada 27 Juli nanti,” kata dia.
Pelestarian permainan tradisional juga aktif dilakukan Pokdarwis Satria Turangga Jati di Kelurahan Rampal Claket, Kecamatan Klojen.
Sejak kelompok tersebut dibentuk sejak 2018 lalu, mereka konsisten mengajak anak-anak mengenal permainan zaman dulu.
Nanang Kustanto, Ketua Pokdarwis Satria Turangga Jati menerangkan, ada tiga acara tahunan yang rutin digelar pihaknya.
Yakni saat Pesona Rampal Celaket, International Culture of Celaket Festival, dan Kirab Agung Satria Turangga Jati.
Di semua event tersebut mereka selalu membubuhkan permainan tradisional bersama anak-anak yang ditampilkan sebagai tontonan.
”Antusiasnya selalu tinggi,” kata dia. (ori/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana