Laptop dan controller jadi dua alat yang tak bisa jauh-jauh dari Luwky.
Kepada Jawa Pos Radar Malang, dia menunjukkan beberapa file berisi contoh karya-karya visualnya.
Karya-karya yang mayoritas bersifat abstrak itu adalah bahan Luwky untuk menampilkan pertunjukan visual jockey (VJ) secara live.
Sesuai tugasnya, VJ harus cermat dan tepat dalam memadukan berbagai elemen desain dalam layar untuk mengiringi musik yang dimainkan disc jockey DJ.
Keberadaannya jarang disorot, namun kehadiran VJ benar-benar penting untuk membangun suasana pesta yang meriah.
Luwky awalnya mengawali karier sebagai musisi dan produser musik.
Namun pada tahun 2010, dia mulai tertarik dengan dunia live visual.
Kebetulan, saat itu Luwky mulai muak dengan industri musik di Indonesia yang menurut dia cenderung ”kotor”.
Akhirnya, lulusan Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Negeri Malang (UM) itu mulai mempelajari dunia live visual secara otodidak.
Perjalanannya dimulai dengan bergabung di grup-grup Facebook yang membahas live visual.
Berlanjut membantu vendor-vendor untuk membuat konten untuk beberapa event.
Seperti ulang tahun Nahdlatul Ulama (NU), ulang tahun anak-anak yang memakai background LED, hingga membuat konten operate event corporate gathering.
Event Prudential, pabrik gula RNI dan pabrik gula Krebet pernah ditanganinya.
”Dari event-event itu, awalnya (saya) masih dibayar Rp 500 ribu. Lalu mulai menjajal festival lokal di Malang dan festival nasional,” kata laki-laki berusia 36 tahun itu.
Seiring perkembangan belajarnya, Luwky mulai menemukan sosok panutan bernama VJ Vello Virkhaus dari Amerika Serikat.
Pada 2015 lalu, Luwky mendengar VJ Vello akan menghadiri Ultra Music Festival di Bali.
Dengan modal nekat, Luwky pun berangkat ke sana untuk menemui VJ idolanya.
Saat berada di Bali, Luwky mendapati fakta tak mengenakkan.
Ternyata, VJ Vello sedang sakit dan digantikan oleh temannya bernama VJ Grant Davis.
Tak mau rugi, Luwky tetap berusaha menemui VJ Grant dan berhasil bercakap-cakap dengannya.
”Yang mengejutkan, ternyata VJ Grant Davis itu pengarang buku yang sering kubaca,” kata bapak anak satu itu.
Seiring berjalannya waktu, nama Luwky mulai dikenal di kalangan VJ.
Semua berawal dari tahun 2017.
Saat itu, melalui pesan di Facebook, dia diajak VJ Vello untuk berkolaborasi tampil di Ultra Music Festival di Singapore.
Saat itu Luwky diminta untuk mengurus resistance stage khusus techno.
Usut punya usut, ternyata yang merekomendasikan VJ Vello untuk merekrut Luwky adalah VJ Grant.
Dari pertunjukan itu, perlahan VJ Luwky mulai menggarap festival dan eventevent artis internasional.
Seperti artis dari Afrika, Afrojack, lalu artis yang masuk nominasi Grammy Award seperti Wizkid, Tems, Ckay, Sarz, Lojay, hingga Ayra Starr.
Saat ini, Luwky sudah mendirikan kantor pribadinya bernama Xchain Labs di Kecamatan Blimbing, Kota Malang.
Dari rumah produksinya itu, Luwky sudah mendesain ribuan karya visual yang sudah ditampilkan secara live di lebih dari 400 panggung di seluruh dunia.
Bayaran paling mahalnya mencapai Rp 150 juta untuk satu kali tampil.
Tahun ini, dia banyak disibukkan dengan beberapa project musik besar.
Seperti konser DJ W&W di Parookaville 2024, Airbeat One Festival, Beatz For Love, hingga Ultra Europe Music Festival di Kroasia bulan Juli lalu.
Dia juga memegang beberapa project untuk operate dan design lighting seperti di The H Club dan W Superclub Atlas Bali.
Momen yang paling berkesan baginya terjadi pada Ultra Europe Music Festival di Kroasia, bulan lalu.
Saat itu, dia diajak DJ W&W untuk menjadi visual jockeynya.
Kebetulan, saat itu Luwky tampil setelah Martin Garrix.
Semua tampak terkendali hingga tiba pada pergantian panggung.
Ternyata Martin Garrix memakai seluruh meja DJ untuk panggung sehingga meja DJ W&W pun harus dipindah.
Otomatis kabel-kabel yang terpasang di situ terlepas semua.
”Sempat time code tidak terbaca dari laptop saya, padahal DJ sudah mulai main musiknya,” ungkap Luwky.
Beruntung, kisaran 30 detik laptopnya sudah tersambung dengan layar utama.
Meskipun terlambat sedikit dari pemutaran lagu. Beruntungnya lagi, penonton tetap bisa menikmati sajian musik dengan antusias dan ceria. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana