MALANG KOTA – Realisasi pendapatan dari sektor parkir di Kota Malang masih belum maksimal.
Potensi yang diungkapkan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang menyebut bisa sampai Rp 23 miliar per tahun dari 1.000 titik parkir.
Sayangnya, tahun ini diperkirakan hanya bisa mencapai Rp 13 miliar.
Perkiraan realisasi itu berdasar target retribusi parkir setelah APBD Perubahan 2024.
Sedangkan pada realisasi tahun lalu, pendapatan parkir hanya di angka Rp 10,77 miliar.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang Widjaja Saleh Putra menjelaskan, belum maksimalnya retribusi parkir karena mayoritas masih menggunakan setoran manual.
Untuk itu, tahun ini mulai dilakukan perubahan.
Setoran retribusi dilakukan secara elektronik menggunakan virtual account dan QR Code.
”Pembayaran manual memang berpotensi menimbulkan kebocoran karena tidak ada data yang jelas. Peluncuran QR Code tahun ini merupakan awal penerapan sistem setoran secara elektronik dalam rangka mencegah kebocoran,” terang Jaya.
Seperti diketahui, dishub telah meluncurkan midel setoran retribusi parkir di 51 titik dengan QR Code.
Teknisnya, juru parkir tinggal melakukan transfer melalui QR Code yang sudah ditetapkan di masing-masing titik.
Ada lima cara penyetoran menggunakan QR Code.
Di antaranya melalui M-Banking, ATM, aplikasi e-commerce, QRIS, dan setor tunai ke bank.
”Misalnya satu titik parkir sudah ditentukan target Rp 200 ribu. Jukir bisa menyetor per hari atau minggu melalui QR Code dan virtual account yang sudah diberikan,” tuturnya.
Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Kota Malang Bayu Rekso Aji menuturkan, potensi pendapatan parkir sebesar Rp 23 miliar sebenarnya merupakan nilai pesimistis atau terendah.
Menurut analisis dewan, nilai optimistis atau maksimal dari retribusi parkir bisa menembus Rp 30 miliar.
”Tapi kenyataannya masih susah mendekati potensi. Mendekati target per tahun saja susah,” kata Bayu.
Dia mencontohkan, tahun ini, target awal pendapatan parkir Rp 17,5 miliar.
Namun realisasi sampai saat ini masih sekitar Rp 8 miliar.
Dishub Kota Malang akhirnya meminta penurunan target menjadi Rp 13 miliar.
”Kami harap tahun depan bisa di atas Rp 15 miliar, syukur-syukur bisa memenuhi Rp 17,5 miliar. Karena sebenarnya potensi di atas Rp 20 miliar,” tandas Bayu. (adk/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana