Pada 15 Oktober lalu, 30 peserta ambil bagian di event lomba mural yang digelar di area parkir P9 Malang Town Square (Matos).
Masing masing peserta mendapat jatah tembok berukuran 2 x 2 meter.
Berlangsung sekitar 14 jam, berbagai gambar dengan tema yang berbeda beda ditampilkan para peserta.
Total tiga tema yang sudah ditentukan panitia.
Yakni tema community, activity, dan vintage.
Lomba mural tersebut digelar untuk mewadahi para komunitas mural.
Karena itu para peserta difasilitasi cat.
Total hadiah yang diperebutkan senilai Rp 15 juta.
Penyelenggara Lomba Mural sekaligus Mall Director Lippo Jatim Fifi Trisjanti mengatakan, dulu sebelum pandemi Covid-19 juga pernah menggelar lomba serupa.
Baru tahun ini mereka bisa memulai lagi.
”Area parkir ini kan banyak dipakai untuk kegiatan komunitas, seperti pound fit hingga push bike. (Event) ini juga untuk menghidupkan ruangan tersebut sebagai ruang komunal,” kata dia.
Dalam waktu tidak lebih dari dua hari sejak diumumkan lomba tersebut, sudah 32 lebih komunitas maupun individu yang mendaftar.
”Karena space-nya terbatas, jadi kami batasi 30 (peserta) saja,” imbuh Fifi.
Peserta lomba mural tersebut tidak hanya datang dari Malang Raya.
Ada juga yang dari Surabaya dan Tulungagung.
Menurutnya, kebanyakan peserta merupakan individu.
Beberapa di antaranya komunitas.
Hasil mural tersebut akan dinilai beberapa juri yang terdiri dari pihak Mal dan dua akademisi dari dua kampus berbeda.
Tujuannya agar penilaian bisa dilakukan lebih objektif.
Unsur utama yang dinilai yakni estetika.
Selanjutnya kesesuaian dengan tema.
”Untuk waktu ya sampai jam 22.00. Tapi kami beri kelonggaran apabila belum selesai,” imbuhnya.
Awalnya lomba tersebut akan digelar selama dua hari.
Namun para peserta meminta untuk di percepat saja, karena ukuran dinding yang digambar dianggap tidak begitu lebar.
Salah satu peserta Doni Kristian mengatakan, cukup jarang lomba mural digelar di Malang.
Biasanya lomba digelar oleh instansi untuk memperingati hari hari besar.
Seperti hari anti narkotika, sehingga isi mural harus berkaitan terkait edukasi anti-narkotika.
”Tapi dari pada lomba, lebih banyak proyek undangan,” tuturnya.
Seperti di sekolah dan kafe. Untuk lomba, biasanya Doni juga memilah yang terjangkau dari segi biaya dan waktu.
Seperti di Matos tersebut, peralatan cat sudah disediakan penyelenggara.
Sehingga Doni yang juga tergabung dalam Komunitas Seni Kaki Lima (SEIKIL) memutus kan untuk ikut.
”Karena kan harus meluangkan waktu cukup lama untuk menggambar, menang tidak nya juga belum tentu,” imbuhnya.
Dalam lomba tersebut, dia dan satu teman komunitasnya menggambar gambar tiga dimensi.
Berupa gambar abstrak kotak hitam dan putih.
Apabila dilihat dari sudut tertentu, gambar itu membentuk sebuah terowongan. (dur/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana