MARIANA Natalia, salah seorang pencinta tato temporer di Kota Malang mengaku sudah banyak mengulik seni tersebut sejak 2021.
Dia tak bisa membuat tato permanen di Kota Malang karena tidak diperbolehkan keluarganya.
Akhirnya, dia lebih sering memilih tato temporer di Kota Malang.
”Kebanyakan aku aplikasikan ke area lengan,” ujar Talia.
Dia mengaku lebih suka tato dengan desain alam.
Seperti bunga, hewan, dan dedaunan.
Objek itu kadang dia kombinasikan dengan gambar abstrak agar tak terlihat monoton.
Talia juga sangat menyukai desain dengan aksen bohemian.
Sehingga, untuk sekali tato temporer, dia tak hanya sekadar menato satu objek saja.
Estimasi biaya yang dia keluarkan untuk sekali tato cukup bervariasi.
”Mungkin sekitar Rp 50 ribu sampai Rp 150 ribuan,” kata dia.
Sejauh ini dia cukup puas dengan hasilnya.
Juga kualitas gambar yang bertahan cukup lama.
”Paling tidak sebulan sekali, aku sudah ketagihan mau bikin lagi,” ucap mahasiswi Universitas Brawijaya (UB) itu.
Salah satu penggemar tato temporer lainnya yakni Cikita Aulya.
Dia mengaku, sejak tiga bulan lalu telah mengenal dan mencoba tato temporer.
”Awalnya karena tahu di pop-up market,” tutur dia.
Dia lantas mencoba menggambar kecil di pergelangan tangannya.
Namun ternyata dia merasa puas dan ingin mencoba gambar yang lain.
Perempuan berhijab tersebut sudah penasaran dengan tato sejak lama.
Namun tidak berani mencoba karena berlawanan dengan keyakinannya.
”Terus ketemu tato yang halal, jadi menjawab rasa penasaran saya,” kata dia.
Saat ada waktu luang, dia sering mengunjungi event-event yang ada jasa tato temporer.
Dengan mengeluarkan uang belasan hingga puluhan ribu, dia bisa mendapat gambar-gambar cukup bagus dan menyerupai tato permanen. (ori/dur/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana