Kecintaan terhadap tanah air bisa ditunjukkan lewat berbagai cara.
Salah satunya dengan konsisten mengenakan kebaya.
Salah satu perempuan yang setia mengenakan kebaya adalah Fifi Trisjanti, Mall Director Malang Town Square (Matos).
Berawal dari sering bepergian ke luar negeri, dia terinspirasi dari banyak daerah di luar negeri yang masih setia menggunakan baju adat.
Seperti Jepang dengan Kimononya.
Juga Korea Selatan yang menggunakan Hanbok dan negara lainnya.
”Dari situ saya tertarik untuk memakai produk budaya sendiri, yaitu kebaya,” ujarnya.
Sudah hampir lima tahun dia konsisten mengenakan kebaya.
Itu dilakukan tidak dalam acara acara saja.
Namun juga di aktivitas sehari-hari.
Memakai kebaya tak membuat ruang gerak Fifi terbatas.
Pasalnya, kebaya yang lengkap dengan jarik itu bisa dipadukan dengan sneakers.
Padu padan itu tetap membuat dia tetap tampil stylish.
Sampai saat ini, Fifi sudah mengoleksi hampir 25 pasang kebaya.
Itu dia gunakan secara bergantian.
Khususnya untuk kebaya jenis kebaya encim dengan bahan katun.
Tujuannya agar tak mudah gerah meski dipakai beraktivitas.
”Kalau menambah koleksi setiap dua sampai tiga bulan sekali saya jahitkan kebaya lagi,” ungkap dia.
Kebiasaan berkebaya kini juga mulai dilirik gen Z.
Seperti dilakukan Laras Ayu Santoso, yang rutin mengenakan kebaya sejak 2021 lalu.
Berawal dari ketertarikannya terhadap kesan feminim yang diperlihatkan salah seorang influencer, Laras mulai tertarik dan mencari inspirasi sendiri untuk berkebaya.
”Justru jadi challenge ya, bagaimana caranya mix and match kebaya biar tidak kelihatan jadul,” paparnya.
Mayoritas kebaya yang dia miliki berjenis kutu baru.
Kebaya berbahan brukat atau sifon bermotif bunga menjadi favoritnya hingga saat ini.
Kebaya itu dia dapatkan dari berbagai tempat.
Mulai dari toko thrifting dan toko autentik yang khusus memproduksi kebaya.
”Kalau di toko autentik bahkan sampai war juga karena cepat kehabisan,” kata perempuan berusia 26 tahun itu.
Tidak hanya digunakan untuk acara tertentu, Laras juga memakainya untuk nongkrong dan bekerja.
Tak mau mainstream, padu padan kebaya kutu barunya dilakukan dengan jeans dan heels.
Itu cukup menambah kesan casual sekaligus feminim.
Alumnus Universitas Negeri Malang (UM) itu mengaku sudah mengoleksi lebih dari 10 kebaya.
Dia terus ingin menambah lagi koleksinya. (ori/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana