MALANG KOTA – Penjualan rumah di Kota Malang tahun ini diprediksi mengalami peningkatan.
Optimisme itu didorong berbagai stimulus yang akan diberikan untuk sektor properti.
Mulai dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP), hingga bebas pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).
Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Malang Dony Ganatha mengatakan, tanda-tanda peningkatan penjualan bisa dilihat dari kinerja akhir 2024 dan awal 2025.
“Dari pameran perumahan yang diikuti teman-teman pengembang, penjualan nya cukup banyak,” tuturnya.
Dony melihat cukup banyak peminat rumah dengan harga Rp 400 juta hingga Rp 600 juta.
Itu karena insentif PPN DTP pada rumah dengan harga maksimal Rp 5 miliar akan diberikan lagi tahun ini.
Karena itu, kenaikan PPN menjadi 12 persen pada barang mewah tidak berdampak besar pada penjualan rumah.
“Kalaupun tidak ada PPN DTP, pasar terbiasa dengan kenaikan harga,” ungkap Dony.
Optimisme itu juga didukung potensi Malang yang cukup baik untuk investasi.
Apalagi harga rumah di Kota Malang masih cukup terjangkau jika dibandingkan dengan kota kota lain, seperti Surabaya.
“Rumah Rp 2 miliar di Surabaya, dengan tipe yang sama bisa didapat dengan Rp 400 jutaan di Malang,” terangnya.
Untuk itu saat ini pengembang juga merambah pembeli dari luar kota.
Terutama untuk rumah-rumah investasi, seperti rumah kos dan rumah villa.
Menurutnya, rumah model tersebut akan banyak dipilih sebagai sumber passive income.
”Mulai Rp 700 juta saja sudah bisa dapat rumah dan bisa di manage dari jauh,” imbuhnya.
Sementara itu, rumah untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) juga banyak mendapatkan stimulus.
Seperti pembebasan BPHTB dan juga bebas retribusi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
Dengan begitu, peningkatan penjualan diprediksi bisa sampai 30 persen dibandingkan tahun lalu. (dur/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana