Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perusahaan Karoseri di Malang Raya, Sejarah dan Perkembangannya (7), Ubah Penggilingan Padi Jadi Karoseri Bak Truk dan Bus

Fathoni Prakarsa Nanda • Selasa, 28 Januari 2025 | 18:00 WIB

JAMIN KUALITAS: Direktur PT Gunungmas Perkasa Nusantara M. Sofianto berdiri di belakang bak truk yang sudah selesai diproduksi kemarin (27/1). NABILA AMELIA/RADAR MALANG
JAMIN KUALITAS: Direktur PT Gunungmas Perkasa Nusantara M. Sofianto berdiri di belakang bak truk yang sudah selesai diproduksi kemarin (27/1). NABILA AMELIA/RADAR MALANG

Sebelum menjadi perusahaan karoseri, Gunungmas merupakan usaha penggilingan padi di Kecamatan Gondanglegi. 

Memasuki 1978, pemilik pertama yang bernama Ahmad Supriyadi memutuskan untuk membuka perusahaan karoseri bak truk. 

Kini, Gunung Mas juga mulai melirik usaha pembuatan bus.
NAHDIATUL AFFANDIAH

SUPRIYADI membuka usaha penggilingan padi pada 1975. 

Tiga tahun kemudian, salah seorang pemasok beras asal Kecamatan Gondanglegi yang bernama Suroso datang dan mengeluh kesulitan membuat bak truk.

Padahal dia baru saja membeli truk untuk mengangkut beras. 

Baca Juga: Perusahaan Karoseri di Malang Raya, Sejarah dan Perkembangannya (5), Hartono Putra Andalkan Inovasi Desain dan Komunikasi pada Pelanggan

Merespons keluhan itu, Supriyadi menawarkan diri untuk membuat bak truk. 

Hasilnya ternyata memuaskan. 

Kemampuan Supriyadi dalam membuat bak truk akhirnya tersebar di kalangan pengusaha beras. 

Baca Juga: Perusahaan Karoseri di Malang Raya, Sejarah dan Perkembangannya (4), Teruji Banyak Cobaan, Tatang Sukses Kembangkan Tentrem

Banyak yang datang dan ingin dibuatkan bak truk. 

Apalagi, pada tahun-tahun itu belum banyak bengkel yang bisa membuat bak truk. 

Karena keuntungannya sangat menjanjikan, Supriyadi banting setir membuka karoseri khusus bak truk. 

Karoseri itu diberi nama Gumuk Mas. 

Produk bak truk pertama yang dibuat Supriyadi menggunakan material kayu. 

Ada tiga jenis kayu yang biasa digunakan saat itu. 

Baca Juga: Perusahaan Karoseri di Malang Raya, Sejarah dan Perkembangannya (3), Kerja Sama Dua Sahabat Lahirkan Perusahaan Piala Mas

Yakni kayu merbau dari Papua, kamper, dan mahoni. 

Kebanyakan kayu dipasok dari supplier di luar Jawa melalui pelabuhan di Gresik. 

Disana, kayu dikeringkan lebih dulu agar tahan lama dan tidak mudah lapuk. 

Baru kemudian dibawa menuju Malang dalam bentuk lembaran untuk diolah menjadi bak truk. 

Para pelanggan Supriyadi sangat setia lantaran bak truk produksi Gumuk Mas sangat berkualitas. 

Saat diisi dengan banyak muatan, bak truk tidak doyong atau pun melebar. 

Pada 1979, Supriyadi beralih menggunakan material besi untuk pembuatan kerangka dan dinding bak truk. 

Sementara lantai bak truk masih tetap dari kayu atau papan. 

Sejak saat itu, penggunaan material besi untuk bak truk dijadikan standar oleh Kementerian Perhubungan. 

Produksi bak truk yang dilakukan Supriyadi mengalami peningkatan drastis pada era 1980-an. 

Saat itu dia juga mengubah nama perusahaan dari Gumuk Mas menjadi Gunungmas. 

Para pelanggan semakin banyak dan berasal dari berbagai daerah. 

Seperti Blitar, Tulungagung, Wonogiri, Samarinda, hingga Papua. 

Dalam pembuatan bak truk, Supriyadi dibantu 150 karyawan. 

Baca Juga: Perusahaan Karoseri di Malang Raya, Sejarah dan Perkembangannya (2), Bengkel di Garasi Rumah Simon Jethrokusumo Jadi Cikal Bakal Adi Putro

Untuk satu bak truk biasanya membutuhkan waktu selama satu minggu. 

Dengan jumlah karyawan yang cukup banyak, mereka bisa menghasilkan 20 sampai 25 unit bak setiap bulan. 

Namun, seiring berjalanya waktu, jumlah karoseri di Malang Raya semakin bertambah. 

Belum lagi ada bengkel-bengkel yang bisa membuat bak truk. 

Hal itu membuat kuantitas pemesanan bak truk ke Gunung Mas tak menentu. 

Kondisi perusahaan sempat mengalami penurunan karena krisis moneter pada 1998. 

Saat itu, perusahaan sempat tidak menjual unit sama sekali. 

Banyak pengusaha yang tidak memesan bak truk. 

Padahal tak sedikit stok yang sudah jadi. 

Kendati demikian, Supriyadi tidak menyerah. 

Dia dibantu para karyawannya untuk tetap mempertahankan Gunung Mas. 

Salah satu karyawan yang sampai sekarang masih bertahan adalah M. Sofianto. 

Dia sudah mengikuti perjalanan Supriyadi sejak 1996 dan banyak mengetahui soal karoseri meski latar belakang pendidikannya adalah akuntansi. 

Dua tahun setelah mengikuti Supriyadi, Sofianto membuat gebrakan. 

Baca Juga: Belajar di Tanaking, Bambang Gunawan Dirikan Morodadi Prima

Salah satunya menerapkan surat perintah kerja produksi. 

Dengan surat tersebut, Sofianto ingin agar produksi lebih terkontrol. 

“Tujuannya mencegah karyawan menambahkan aksesori lain di luar perencanaan awal pembuatan bak truk,” kata lelaki berusia 55 tahun tersebut. 

Kendali perusahaan juga sempat berada di bawah Sofianto. 

Terutama setelah Supriyadi meninggal pada usia 68 tahun, 2016 silam. 

Kebetulan, ketiga putra Supriyadi memilih membuka usaha sendiri-sendiri. 

Perusahaan pun juga sempat goyah tahun 2019. 

Memasuki tahun 2023, perusahaan diambil alih atau dibeli oleh Sulaiman. 

Dia juga merupakan putra asli Kecamatan Gondanglegi. 

Kebetulan, keluarga Sulaiman memiliki hubungan yang dekat dengan keluarga almarhum Supriyadi sejak dulu. 

Sulaiman kemudian memberi amanah kepada Sofianto untuk tetap memimpin Gunungmas. 

Tak hanya sekadar meng ambil alih perusahaan, lelaki berusia 47 tahun itu juga melakukan modernisasi pada perusahaan. 

Ada beberapa teknologi yang ditambahkan untuk mempermudah pembuatan bak truk. 

Seperti alat menekuk besi, alat pemotong besi, dan dua unit crane

“Kalau dulu, untuk membuat dinding bak truk dengan pola bergelombang harus menggunakan jasa dari orang luar. Itu kan menambah cost,” sebut Sofianto. 

Selain modernisasi alat, saat ini Gunungmas sudah memiliki 23 Surat Keputusan Rancang Bangun (SKRB). 

Surat tersebut menjadi standar pembuatan bak truk. 

Misalnya, SKRB untuk Mitsubishi FE 74 HDS, Mitsubishi FE 71, Isuzu NMR 45.8, dan Hino 136 HDL. 

Tanpa standar itu, perusahaan pemilik truk tidak bisa mengurus administrasi seperti STNK. 

Sulaiman yang juga memiliki bisnis travel kini juga mendorong pembuatan bus. 

Ada dua unit prototype bus dengan kapasitas 40 tempat duduk yang sekarang sedang digarap oleh Gunungmas. 

Hal itu sudah berlangsung sejak Agustus 2024. 

Proses penggarapan masih berlangsung hingga kini. 

Setelah penggarapan bus selesai, rencananya Gunungmas akan memperkenalkan kepada publik. (*/fat)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#sejarah #bak truk #usaha #Malang Raya #perkembangan #karoseri #perusahaan