Kota Malang masih menjadi salah satu daerah sumber talent film. Terutama untuk film layar lebar bergenre horor.
Menjamurnya produksi film yang mengambil latar di wilayah Jawa Timur ikut mendorong tingginya kebutuhan terhadap talent lokal.
Salah satu manajemen yang cukup aktif menyalurkan talent yakni Amoura Management.
Manajemen yang berdiri sejak 2003 itu awalnya fokus terhadap pengelolaan model, sexydancer, hingga talent untuk video klip.
Baca Juga: Film Animasi Indonesia Jumbo Tembus 5 Juta Penonton dalam 20 Hari, Kalahkan Frozen II
Namun sejak 2019, Amoura mulai mengembangkan arah ke dunia perfilman. Kini, mereka rutin menerima permintaan casting.
Setiap tahun, rata-rata ada empat judul film layar lebar yang meminta talent dari mereka.
”Biasanya permintaan datang dari Production House (PH) ke casting director, lalu ke manajemen seperti kami,” terang Founder Amoura Management Cahyanti Natalia.
Manajemen juga bertindak sebagai negosiator dan pengatur jadwal syuting. Saat talent terpilih, manajemen akan mendampingi selama proses syuting.
Baca Juga: Film Drama Romantis Tahun 2000-an yang Punya Cerita Unik dan Plot Twist Paling Keren
Termasuk memastikan fasilitas makan dan akomodasi terpenuhi. Dalam aplikasinya, tidak semua talent datang dalam kondisi siap tampil.
”Harusnya mereka yang ke manajemen seperti kami sudah punya kemampuan akting. Tapi kenyataannya banyak yang datang dari nol. Akhirnya kami buka kelas akting juga,” imbuhnya.
Amoura Management terbuka bagi siapa saja. Segmen mereka adalah kalangan umum. Sebab, kebutuhan PH sangat beragam, khususnya untuk peran pendukung.
”Pemeran warga desa paling gampang dicari, tinggal lihat karakter wajahnya,” terangnya.
Beberapa proyek film besar juga pernah melibatkan talent dari Amoura, seperti Perempuan Tanah Jahanam, Rego Nyowo, hingga Mencuri Raden Saleh.
Untuk proses penjaringan, Amoura biasanya membuka rekrutmen lewat media sosial. Calon talent diminta mengirimkan foto tampak depan, samping kanan, dan kiri.
Serta mengirimkan video berjalan. Salah satu talent berbakat yang pernah tampil di film nasional adalah Latisya Ayu.
Gadis yang saat ini berusia 12 tahun tersebut pernah terpilih sebagai pemeran masa kecil Tara Basro dalam film Perempuan Tanah Jahanam.
Baca Juga: Ryan Gosling Bintangi Film Baru “Star Wars: Starfighter”, Tayang 2027
”Ada empat pemeran anak, tiga di antaranya dari Malang,” tutur Varinta Eva, ibu dari Latisya.
Film tersebut dikerjakan pada 2018 lalu. Tisya melewati dua tahap casting. Yang pertama di Malang.
Selanjutnya di Pasuruan, di hadapan sutradara film tersebut, Joko Anwar. Saat itu Tisya masih duduk di bangku TK.
Meski sudah memiliki bakat berakting sejak kecil, pengalaman tersebut memberinya banyak sekali pengal a m a n berakting langsung.
Baca Juga: Ada Jumbo dan Boboiboy! Ini 5 Film Animasi dengan Penonton Terbanyak di Asia Tenggara
”Terutama untuk adegan menangis harus bagaimana, dia belajar langsung dari artis-artis dan sutradara di sana,” imbuh Varinta.
Dalam film tersebut Tisya berperan sebagai masa kecil Maya, pemeran utama. Untuk memerankannya, Tisya harus di-make-up berjam-jam.
Sebab, dia berperan sebagai anak yang memiliki tubuh penuh dengan luka.
”Awalnya dia takut karena genrenya horor, tapi ternyata di tempat syuting tidak semenakutkan yang ada di film asli,” kata Varinta.
Film yang lokasinya berada di Banyuwangi t e r s e b u t m e n j a d i film layar lebar pertama yang dibintangi T i s y a . (dur/by)
Editor : A. Nugroho