MALANG KOTA - Daya beli masyarakat terpantau turun sejak beberapa bulan terakhir.
Delapan pusat perbelanjaan di Malang turut merasakannya.
Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Malang Suwanto mengestimasi, penurunan angka penjualan di masing-masing mal mencapai 40 persen.
Itu bila dibandingkan dengan momen bulan Ramadan, Maret lalu.
”Kami menyadari masyarakat memang sudah menghabiskan uangnya saat diskon Lebaran,” ujar Suwanto.
Namun tetap saja penurunan penjualan setelah Lebaran tahun ini lebih parah.
Meskipun penurunannya sama-sama 40 persen, harus diingat bahwa tahun ini transaksi saat Lebaran juga ikut menurun.
Estimasinya sekitar 20 persen dibanding Lebaran tahun lalu.
Menurut Suwanto, selama libur Lebaran dan pasca-Lebaran, mal-mal memang terlihat ramai.
Apalagi saat long weekend Hari Raya Waisak pada pertengahan Mei lalu.
Namun, tetap saja jumlah transaksinya tidak sebanding dengan jumlah kunjungan.
”Saya lihat skala prioritas masyarakat sudah bergeser. Sekarang, mereka (konsumen) lebih mementingkan kebutuhan primer,” lanjut Suwanto.
Pergeseran itu terlihat dari jumlah transaksi masing-masing pelanggan.
Dulu, masih banyak pelanggan yang ke mal dengan jumlah transaksi di atas Rp 200 ribu.
Namun, sekarang rata-rata hanya Rp 100 ribu sampai Rp 150 ribu saja.
Tren penurunan daya beli itu sebenarnya bisa disiasati dengan kerja sama antara Pemkot Malang, para pe ngusaha, hingga Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang.
Terutama dalam pemerataan literasi keuangan.
”Sebagai contoh ketika masyarakat sudah memiliki rencana keuangan yang baik, daya beli untuk durable goods (barang tahan lama) maupun barang biasa akan stabil,” ujar Kepala OJK Malang Farid Faletehan. (aff/by)
Editor : A. Nugroho