RADAR MALANG – Di tengah hiruk pikuk modernisasi Kota Malang, berdiri megah sebuah bangunan yang seolah membekukan waktu. Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, lebih dikenal sebagai Gereja Ijen, tak hanya menjadi tempat ibadah umat Katolik, tetapi juga saksi bisu perjalanan sejarah, perjuangan, dan akulturasi budaya di kota dingin ini. Siapa sangka, di balik dinding batunya yang dingin, tersimpan kisah panjang yang tak banyak orang tahu.
Awalnya bernama Theresiakerk, gereja ini dibangun pada masa penjajahan Belanda sebagai respons terhadap meningkatnya jumlah umat Katolik Eropa dan Indo di Malang. Peletakan batu pertamanya dilakukan pada 11 Februari 1934, diprakarsai oleh Mgr. Clemens van der Pas, dan resmi digunakan pada 28 Oktober 1934. Seiring berjalannya waktu dan perubahan status Keuskupan Malang, gereja ini kemudian berganti nama menjadi Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel pada tahun 1958 atau 1961, tergantung rujukan sejarah yang digunakan.
Baca Juga: Gereja Ijen Gelar Doa Bersama untuk Paus Fransiskus
Dibangun oleh perusahaan konstruksi NV Bouwundig Bureau Sitzen en Louzada dengan arsitektur rancangan L. Estourgie, gereja ini mengusung gaya Neo-Gothik khas Belanda. Atap bersusun tiga, menara lonceng menjulang, jendela kaca patri warna-warni, hingga ornamen flora-fauna yang menyimbolkan kisah penciptaan dalam Kitab Kejadian, semuanya menyatu dalam harmoni arsitektur religius yang memikat mata.
Tak hanya indah, Gereja Ijen juga menyimpan detail-detail unik. Dua lonceng utama yang menggantung di menara dibuat langsung oleh perusahaan peleburan logam ternama asal Belanda, Petiten Fritsen. Lonceng pertama berbobot 303 kg dengan nada A, sedangkan lonceng kedua berbobot 185 kg dengan nada E. Suara dentingnya masih bergema hingga hari ini, menjadi penanda waktu sekaligus warisan yang hidup. (my)
Kapasitas gereja yang mampu menampung sekitar 1.200 orang menjadikannya pusat kegiatan Katolik terbesar di Malang. Terlebih lagi, lokasi strategisnya di Jalan Ijen Boulevard, kawasan elit berarsitektur kolonial, menjadikan gereja ini mudah diakses dan kerap disinggahi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Baca Juga: 378 Siswa Katolik St Albertus (SMA Dempo) Kota Malang Dinyatakan Lulus di Purnawiyata 2025
Tak heran, bangunan ini kemudian ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Malang. Penetapan ini bukan hanya soal pelestarian fisik, tapi juga bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai sejarah, spiritualitas, dan perjuangan umat Katolik yang dahulu harus beribadah di tempat seadanya.
Bagi banyak orang, Gereja Ijen hanyalah "gereja tua yang cantik." Namun bagi sebagian lainnya, bangunan ini adalah monumen keimanan dan ketekunan komunitas Katolik yang terus bertumbuh meski zaman berubah. Arsitekturnya memang mengundang decak kagum, tapi sejarahnya yang dalam dan simbolik-lah yang menjadikannya lebih dari sekadar destinasi wisata religi. Kini, Gereja Ijen tak hanya berdiri sebagai bangunan, melainkan sebagai pengingat akan masa lalu, dan pengikat spiritual bagi masa kini dan nanti. (my)
Editor : Aditya Novrian