MALANG KOTA – Meski jadi jembatan teknologi menuju kendaraan ramah lingkungan, mobil hybrid belum banyak dilirik konsumen. Rata-rata diler mobil hybrid hanya mencatat penjualan 2 hingga 4 unit per bulan. Jumlah itu kalah dari mobil konvensional maupun electric vehicle (EV) yang bisa terjual lebih dari 5 unit per bulan.
Seperti di Diler Hyundai Jalan Letjen Sutoyo. Dalam sebulan, mobil hybrid yang terjual hanya 1–2 unit. Harga tinggi menjadi salah satu faktor penghambat. Model termurah dibanderol Rp 614,5 juta sehingga segmen pasarnya terbatas.
”Penjualan sangat tergantung pada brand dan segmen. Karena hybrid masuk kelas menengah atas,” ujar Yudi Irawan Wijaya, Direktur PT Gatra Perdana Putra.
Meski demikian, penjualan mobil hybrid masih lebih baik dibanding EV. Sebab, Hyundai hanya memiliki satu model EV, yakni Ioniq. Namun tetap saja, penjualan mobil hybrid masih tertinggal dari model konvensional seperti Stargazer dan Creta.
Saat ini, Hyundai Santa Fe menjadi model hybrid terlaris di Malang. Mobil itu menawarkan desain modern dan premium dengan kapasitas tujuh penumpang.
Hal yang sama juga terjadi di Wuling. Penjualan mobil hybrid lesu ketimbang mobil listrik. Varian EV seperti Air EV, Binguo, dan Cloud lebih laris. Sedangkan hybrid seperti Almaz belum menunjukkan angka penjualan signifikan.
”Konsumen mobil hybrid biasanya sudah terbiasa pakai EV dan ingin mencoba alternatif baru,” kata Sales Counter Hyundai Malang Lily.
Namun, ada tantangan lain. Konsumen masih ragu soal konsumsi bahan bakar dan usia pakai baterai hybrid. Mereka yang khawatir soal daya jelajah dan ketahanan baterai lebih memilih mobil konvensional. Sedangkan yang ingin mobil tanpa emisi lebih memilih EV murni. (aff/adn)
Editor : A. Nugroho