Produksi Sampah Plastik di Kota Malang Capai 16 Persen

A. Nugroho • Dipublikasikan Sabtu, 23 Agustus 2025 | 20:34 WIB
PRODUKSI SAMPAH PLASTIK: Produksi Sampah Plastik Capai 16 ?ri Total 700-an Ton yang Dihasilkan Setiap Hari
PRODUKSI SAMPAH PLASTIK: Produksi Sampah Plastik Capai 16 ?ri Total 700-an Ton yang Dihasilkan Setiap Hari

MALANG KOTA - Sampah plastik menempati urutan kedua dalam daftar produksi harian. Estimasinya mencapai 16 persen dari 700-an ton sampah yang diproduksi di Kota Malang setiap harinya (selengkapnya baca grafis). 

Persentase itu jadi salah satu alasan aktivis lingkungan mendesak pembentukan Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur penggunaan plastik. Seperti diberitakan sebelumnya, perda khusus itu sebenarnya sudah diusulkan pada tahun lalu. Namun belum ditindaklanjuti pemkot dan dewan.

Rencananya, pada tahun ini usulan itu bakal dibahas. Pemkot dan dewan masih sama-sama menunggu naskah akademik dari mahasiswa Universitas Brawijaya (UB). Dalam naskah akademik itu bakal disampaikan bahasa sampah plastik untuk manusia. Khususnya partikel mikroplastik dan nanoplastik

Kepala Bidang (Kabid) Persampahan dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Malang Roni Dwi Kuncoro mengakui bahwa persentase sampah plastik cukup tinggi. Di bawahnya ada sampah lain berupa kertas dan karton sebanyak 10 persen. ”Selanjutnya sampah kayu dan ranting sebanyak 8 persen, dan beberapa sampah lain,” kata Roni.

Meski jumlahnya tidak sebanyak sampah organik, DLH Kota Malang tetap berupaya menekan volume sampah plastik. Itu diwujudkan dengan menerapkan regulasi pembatasan sampah plastik. Sejauh ini, pemkot sudah memiliki Perda Kota Malang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Sampah. Kemudian ada dua surat edaran Wali Kota Malang yang berisi imbauan pengurangan sampah plastik.

Yakni Surat Edaran Wali Kota Malang Nomor 660/829/35.73.307/2018 dan Surat Edaran Wali Kota Malang Nomor 8 Tahun 2021. Roni juga memastikan bahwa DLH terus berupaya mengurangi jumlah sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang. Salah satunya dilakukan lewat pengolahan di bank sampah.

”Untuk bank sampah, kami memiliki satu bank sampah induk di Kecamatan Sukun dan 229 bank sampah unit yang tersebar di lima kecamatan,” beber Roni. Dia menyebut, jumlah sampah yang dikelola satu unit bank sampah mencapai 0,3 ton per hari. Sementara di bank sampah induk mencapai 0,19 ton per hari.

Ada beragam jenis sampah yang dikelola di bank sampah. Yang paling banyak ditemukan yakni kardus. Selain itu juga ada sampah plastik. Namun, sampah plastik yang masuk ke bank sampah hanya sedikit. Selanjutnya, sampah-sampah yang masuk dijual ke pengepul, dijual ke pabrik, atau dikelola menjadi kerajinan.

Selebihnya, sampah-sampah dikelola di lingkungan masyarakat, pemulung di setiap TPS, hingga penggerobak sampah. Roni mengestimasi, sampah yang masuk ke TPA Supit Urang berkisar 500 ton per hari.

Dari pengamatan pihaknya, kelompok yang paling banyak menyumbang sampah plastik dan sampah-sampah lainnya adalah rumah tangga. Persentasenya mencapai 47 persen. ”Dilanjutkan dengan perkantoran sebanyak 20 persen, fasilitas publik 14 persen, dan sisanya ada yang dari pasar, perniagaan, hingga kelompok masyarakat lain,” tambah pejabat eselon III B Pemkot Malang itu.

Agar timbunan sampah tidak semakin banyak, pihaknya juga melakukan pengelolaan menjadi pupuk. Dalam waktu dekat, pemkot mendapat instruksi dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk melakukan pemanfaatan sampah menjadi energi listrik.

 

Sulit Hindari Mikroplastik, Harus Diimbangi Olahraga

Di sisi lain, cukup banyak pemaparan terkait bahaya kontaminasi mikroplastik dan nanoplastik ke dalam tubuh manusia. Salah satu hasil penelitian menyebut bahwa partikel terkecil dari plastik itu bisa masuk melalui tiga jalur utama. Yaitu makanan, udara, dan kontak kulit.

Dalam artikel berjudul Impact of Microplastics and Nanoplastics on Human Health (Nanomaterials, 2021) yang ditulis Maxine Swee-Li Yee menyebut, partikel plastik bisa masuk menembus sel. Mereka masuk melalui pintu sel seperti proses endositosis. Membuat sel menelan benda kecil.

Begitu masuk tubuh, partikel plastik akan terkumpul di bagian sel tertentu. Kemungkinan terburuk tumpukan itu bisa mengganggu fungsi sel. Hasilnya, sel mengalami peradangan atau inflamasi hingga kematian.

Selain itu, mikroplastik juga disebut-sebut berdampak pada stres oksidatif dan kematian sel. Sebab partikel plastik bisa memicu radikal bebas (ROS) yang merusak sel. Itu membuat sel bisa mati lebih cepat.

Selain itu juga berpotensi menimbulkan gangguan metabolisme karena memengaruhi cara tubuh mengolah energi, lemak, asam amino, dan mengganggu keseimbangan bakteri baik. Plastik bukan partikel padat, namun berisi bahan kimia tambahan. Seperti BPA, flatalat, zat pewarna, dan bahan anti api.

Saat plastik mulai rusak, bahan kimia itu bisa lepas ke makanan, minuman atau jaringan tubuh. Risikonya bisa mengakibatkan gangguan pada hormon. Itu juga bisa meningkatkan risiko kanker. Tahun 2024 lalu, Dosen Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Brawijaya (UB) Aida Sartimbul juga meneliti kontaminasi mikroplastik. Dituangkan dalam artikel berjudul ”Microplastics Contamination in Aquaculture-rich Regions”. Objek penelitiannya yakni ikan-ikan di perairan.

Hasilnya, 100 persen ikan yang dijadikan sample mengandung mikroplastik. ”Tapi kadarnya berbeda. Ada yang 20 persen hingga 70 persen,” ujar Aida. Dia menemukan empat jenis mikroplastik yang ada di ikan. Yaitu fragmen seperti pecahan plastik keras, botol, dan kantong. Jenis kedua adalah fiber atau serat seperti benang, pakaian sintetis, hingga jaring nelayan.

Jenis plastik berikutnya yakni film, yaitu plastik tipis dan kantong plastik. Terakhir ada pellet yang menjadi bahan baku plastik dan microbeads kosmetik. Menurut Aida, temuan itu jelas berbahaya karena konsumsi ikan oleh masyarakat cukup tinggi.

Karena itu, tak heran saat ini banyak penyakit bermunculan. Seperti kasus autoimmune yang meningkat. Sebab tubuh manusia sudah banyak tercemar mikroplastik dan nanoplastik. Satu-satunya jalan menurut Aida adalah mengimbangi kontaminasi mikroplastik dengan pola hidup sehat.

Sebab pada era sekarang sangat sulit menghindari mikroplastik. Untuk itu harus diimbangi dengan olahraga dan makan makanan sehat seperti real food. Di pihak lain, Ecoton Foundation juga melakukan pengawasan yang sama.

Hasilnya, ditemukan kontaminasi mikroplastik pada seluruh makanan atau minuman yang dibungkus plastik. Otomatis itu masuk ke dalam tubuh manusia yang mengonsumsinya. Hanya saja menurut Ecoton Foundation, saat ini belum ada baku mutu terkait batas bahaya mikroplastik dalam tubuh manusia.

Sebab, penentuan baku mutu mikroplastik harus melibatkan pemerintah sebagai pemegang regulasi. ”Tahun lalu kami sudah mengajukan baku mutu, tapi belum ada tanggapan,” kata Rafika Aprilianti, Peneliti Mikroplastik di Ecoton Foundation. (mel/aff/by)

 

Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang
Produksi sampah plastik presentase lingkungan Sampah