Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Angkat Lokalitas Madyopuro lewat Konsep Tempo Doeloe

A. Nugroho • Sabtu, 23 Agustus 2025 | 21:00 WIB
TAHUN PERTAMA: Banyak stan bazar di Pesta Rakjat BTU Tempo Doeloe yang menyediakan varian makanan zaman dulu.
TAHUN PERTAMA: Banyak stan bazar di Pesta Rakjat BTU Tempo Doeloe yang menyediakan varian makanan zaman dulu.

MALANG KOTA- Untuk pertama kalinya warga RW 18 Kelurahan Madyopuro, Kedungkandang menggelar Pesta Rakjat BTU Tempo Doeloe. Kegiatan tersebut berlangsung mulai kemarin (22/8) sampai 24 Agustus mendatang.

Sesuai dengan namanya, warga menonjolkan lokalitas seperti budaya hingga UMKM dalam event itu.

Dwaji Galih Mahardika, Ketua Panitia Pesta Rakjat BTU Tempo Doeloe menjelaskan, pihaknya mengusung konsep tempo dulu agar lebih meriah. Konsep tersebut sudah dipersiapkan selama tiga bulan terakhir. ”Kebetulan kami termasuk RW baru di Kelurahan Madyopuro. Untuk memperkenalkan diri sekaligus memperingati kemerdekaan, kami menggelar pesta rakyat,” jelas dia, kemarin (22/8).

Galih menjelaskan, dalam kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu, pihaknya banyak menonjolkan lokalitas di Kelurahan Madyopuro. Sebagai contoh kesenian Bantengan. Ada dua kelompok bantengan dari Madyopuro yang dilibatkan. Yakni Bantengan Bimo Suro Manunggal dan Bantengan Mahesa Aji.

Selain itu, ada inaugurasi dari warga RW 18 dan penampilan band D’Kross pada Sabtu malam (23/8). Inaugurasi yang ditampilkan menonjolkan anak-anak kecil yang menari. Pada hari yang sama, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat juga dijadwalkan hadir.

Ada pula UMKM berupa bazar makanan hingga minuman selama tiga hari. Yang disuguhkan juga makanan zaman dulu. Seperti cenil, rawon, soto, dan es teh. Selain itu ada sebagian makanan bernuansa modern. Antara lain sosis hingga fried chicken.

”Total ada 35 stan bazar yang tersedia, tapi sebenarnya yang mendaftar lebih dari itu,” kata Galih. Pendaftaran untuk stan bazaar yang dibuka satu bulan lalu harus ditutup dalam waktu tiga minggu karena sudah mencapai 100 pendaftar bazar.

Di samping penampilan dan UMKM, ada photo booth yang disediakan warga. Di area photo booth terdapat furnitur jadul berupa kursi kayu, televisi, nampan, lampu gantung, topeng Malangan, dan lainnya. ”Agar lebih menambah suasana tempo dulu, panitia dan penunggu stan bazaar juga menggunakan busana seperti kebaya selama kegiatan,” sambung Galih. Dia menyebut ada lebih dari 100 kepala keluarga (KK) yang terlibat untuk merealisasikan Pesta Rakjat BTU Tempo Doeloe.

Anjar Hariyanto, wakil ketua panitia menambahkan, pada hari terakhir ada agenda jalan sehat dan zumba. Kemudian dilanjutkan dengan hiburan rakyat seperti penampilan dangdut hingga pengumuman pemenang lomba 17 Agustus. ”Selama bulan Agustus, kami menggelar beberapa lomba seperti gobak sodor, lomba video, dan memindahkan air ke dalam wadah,” terangnya.

Sementara itu, Sicillia Chienk salah seorang warga yang menampilkan stan bazaar tempo dulu menyebut kalau dirinya menjual aneka jajanan. Misalnya saja cenil, klepon, dan es teh. Dibanderol dengan harga mulai Rp 5 ribu. ”Saya berharap kegiatannya berjalan lancar sampai 24 Agustus,” kata dia. Dia juga mengundang teman-teman dari luar Perumahan BTU untuk hadir meramaikan pesta rakyat.

Seperti banyak diketahui, festival tempo doeloe banyak digelar warga mulai bulan Juli lalu. Contohnya, pada 8 Juli lalu ada Festival Genitri Tempo Doele. Event itu digelar warga RW 4, Kelurahan Pisangcandi, Kecamatan Sukun sampai 12 Juli.

Selanjutnya ada event Semar Tempoe Doeloe 2 yang diselenggarakan warga RW 02, Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing pada 20 sampai 26 Juli lalu. Pada 26 sampai 30 Agustus nanti juga ada Festival Kampoeng Klasik Nusantara. Event itu digelar warga RW 11 Villa Bukit Tidar, Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru. (mel/by)

Editor : A. Nugroho
#Kesenian #Inagurasi #pesta #tempo dulu #Bazar