Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Pemkot Malang Berencana Permanenkan 2 Rekayasa Lalin, Penataan di Sekitar Pasar Oro-Oro Dowo Banyak Dikeluhkan

Bayu Mulya Putra • Kamis, 28 Agustus 2025 | 19:04 WIB

Rekayasa lalin di Kota Malang dalam 3 tahun.
Rekayasa lalin di Kota Malang dalam 3 tahun.
 

MALANG KOTA - Upaya mengurai kemacetan lewat rekayasa lalu lintas (lalin) rutin diterapkan Pemkot Malang sejak 2023 lalu. Cara itu terus dilanjutkan sampai tahun ini. Ada dua uji coba rekayasa lalin yang kini diterapkan. Pertama di Jalan Kahuripan dan sekitarnya. 

Kedua di Jalan Guntur atau di depan Pasar Oro-Oro Dowo (selengkapnya baca grafis). Di Jalan Kahuripan, uji coba yang dimulai sejak 14 Mei lalu berdampak kepada jalan-jalan di sekitarnya. Seperti di Jalan Brawijaya, Jalan Tumapel, dan Jalan Majapahit. 

Rekayasa di sana dilakukan karena sebelumnya terjadi bottleneck (penyempitan lebar jalan) di persimpangan. Akibatnya, kendaraan yang melintas tidak bisa melaju dengan lancar. Pemkot melakukan rekayasa dengan cara melarang kendaraan yang sebelumnya belok kanan menuju Jalan Brawijaya (Pasar Splendid), harus lurus menuju ke Alun-Alun Tugu.

”Uji coba di Jalan Kahuripan terbilang berhasil. Dari yang semula kecepatan kendaraan sekitar 11 kilometer per jam, menjadi 28 kilometer per jam,” terang Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang R. Widjaja Saleh Putra. Dia memastikan bakal terus melakukan evaluasi terhadap uji coba di Jalan Kahuripan dan sekitarnya.

Hari ini (28/8), pemkot bersama Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (FLLAJ) akan melakukan evaluasi di Mini Block Office (MBO) untuk mengetahui hasil uji cobanya. Ada kemungkinan rekayasa di sana bakal dipermanenkan. Selain di Jalan Kahuripan, ada uji coba rekayasa di Jalan Guntur yang berlangsung sejak 1 Agustus lalu. 

Di sana diberlakukan satu arah. Pengendara yang sebelumnya bisa belok kanan dari Jalan Anjasmoro dan Jalan Brigjen Slamet Riyadi tidak boleh lagi melintas. Kendaraan yang bisa melintas hanya dari arah Gereja Ijen menuju ke Jalan Brigjen Slamet Riyadi. Di samping rekayasa lalu lintas, dishub juga berencana menambah satuan ruang parkir (SRP) di sekitar Pasar Oro-Oro Dowo. Penambahan SRP itu rencananya dilakukan di dekat TPS Muria yang tidak jauh dari Pasar Oro-Oro Dowo.

”Di sana ada lahan yang memungkinkan untuk parkir motor maupun parkir mobil. Namun, kami belum bisa memperkirakan kapasitas pastinya karena masih akan dihitung,” imbuh Jaya. Selain di dekat TPS Muria, SRP sebenarnya sudah ada di sekitar Pasar Oro-Oro Dowo. Untuk parkir mobil berada di seberang pasar.

Kemudian parkir motor di dekat pintu pasar. Agar tidak menimbulkan kemacetan, dishub memberlakukan drop zone di depan pasar bagi yang mengantar maupun yang menjemput. Hingga kemarin (27/8), uji coba di sekitar Pasar Oro-Oro Dowo berlangsung lancar. Sempat ada keluhan dari paguyuban pasar yang merasa jumlah pembeli berkurang. Keluhan itu pun sudah dibicarakan bersama dengan dewan pada pekan lalu. 

Di tempat lain, anggota Komisi C DPRD Kota Malang Arief Wahyudi. Menyebut rekayasa di depan Pasar Oro-Oro Dowo masih banyak catatan. Pertama, dia mendapat keluhan penurunan pelanggan di pasar. Berkurangnya minat pengunjung terjadi karena kendaraan dari Jalan Brigjen Slamet Riyadi tidak bisa langsung mengarah ke pasar. Harus memutar terlebih dahulu ke Jalan Buring.

Alasan lainnya karena ada pemindahan area parkir mobil. ”Jadinya, jumlah pelanggan yang bawa mobil berkurang,” ujar Arief.  Sosialisasi terkait rekayasa lalin juga dinilai kurang. Arief menekankan, sosialisasi seharusnya tidak hanya dilakukan kepada pengendara jalan maupun warga Kota Malang. ”Pernyataan dari pedagang, mereka belum pernah mendapatkan sosialisasi terkait rekayasa lalin. Saya minta digelar pertemuan agar pemkot bisa mendapatkan saran dari pihak yang terdampak,” tegas anggota legislatif daerah pemilihan Klojen itu. 

Akademisi Soroti Bottleneck di Jalan Semeru

Rekayasa lalin yang sudah diterapkan dalam beberapa tahun terakhir juga mendapat sorotan dari Pengamat Transportasi Universitas Widyagama (UWG) Malang Prof Dr Ir Aji Suraji MSc IPA ASEAN Eng. Dia memiliki beberapa catatan terkait rekayasa di Kajoetangan atau Jalan Basuki Rahmat. 

”Kalau Kajoetangan ke Jalan Kahuripan sekarang ini sudah terurai. Tapi masih ada bottleneck dari Kajoetangan ke arah Jalan Semeru,” tuturnya. Itu terjadi karena ada pertemuan arus kendaraan yang cukup padat dari Kajoetangan sisi selatan dan utara.

”Kepadatan itu tidak dibarengi dengan kapasitas jalan yang memadai. Kapasitas jalan menyempit karena masih ada kendaraan yang terparkir,” papar Guru Besar Teknik Jalan Raya itu. Sebagai langkah jangka pendek, Aji mendorong pemkot untuk melakukan penertiban di sepanjang ruas jalan tersebut. 

Sebagai pengingat, rekayasa lalin pertama pada 2023 memang diterapkan di kawasan Kajoetangan Heritage. Diawali dengan uji coba pada bulan Februari. Sebulan berikutnya dipermanenkan.

Selama proses uji coba, ada penolakan dari masyarakat. Namun, kebijakan satu arah akhirnya tetap diresmikan. 

Selain Kajoetangan Heritage, ada usulan untuk rekayasa lalu lintas di Jalan Untung Suropati atau kawasan Buk Gluduk. Salah satu skemanya, pengendara dari Jalan Panglima Sudirman dilarang belok kanan ke Jalan Trunojoyo. Namun, karena termasuk jalan provinsi dan membutuhkan perencanaan yang matang, rekayasa di sana urung dilakukan sampai sekarang. 

Rekayasa lalu lintas lainnya juga diusulkan pada 2024. Namun yang terealisasi sampai sekarang di Jalan Brigjen Slamet Riyadi menuju Jalan Buring dan Jalan Bromo. Jalan Laksda Adi Sucipto dan Simpang Empat Kawi sempat diuji coba, tapi akhirnya tidak jadi dilanjutkan.

Jalan Laksda Adi Sucipto sempat diusulkan untuk dilakukan rekayasa. Sebab tingkat kepadatan di sana cukup tinggi. Pihaknya memberlakukan 2,5 fase pada traffic light selama dua hari. Namun uji coba yang dilakukan bersama kepolisian saat itu tidak membuahkan hasil. Kendaraan mengekor cukup panjang hingga mendekati perlintasan Stasiun Blimbing. 

Demikian pula yang terjadi di Simpang Empat Kawi. Saat itu, dishub melakukan rekayasa dengan konfigurasi traffic light menjadi lebih lama. Meliputi traffic light di Jalan Kelud dan Jalan Arjuno yang berdurasi 18 detik. Lalu traffic light di Jalan Kawi Atas (Mal Olympic Garden) yang semula 40 detik, menjadi 45 detik sampai 55 detik. Sementara traffic light di Jalan Kawi Bawah (dari Talun) menjadi 55 detik sampai 60 detik. Jika ditotal, siklus lalin di simpang berdurasi 140 detik. (mel/adk/by)

Editor : A. Nugroho
#rekayasa lalin #FLLAJ #Kota Malang #dishub