MALANG KOTA - Aksi solidaritas menuntut keadilan atas meninggalnya driver ojek online (ojol) Affan Kurniawan berujung ricuh pada dini hari kemarin (30/8). Sentimen massa tampak meningkat saat satu kompi anggota Brimob merapat ke Mapolresta Malang Kota pada Jumat malam (29/8), sekitar pukul 23.00. Kondisi semakin ricuh saat 15 menit berikutnya gas air mata ditembakkan ke arah massa.
Hermansyah, salah satu demonstran tidak menyangka polisi akan menggunakan gas air mata lagi. Memori buruk terkait alat itu dalam tragedi Kanjuruhan masih ada dalam ingatan para demonstran. ”Mayoritas yang demo juga kaget, kami tidak membawa peralatan lengkap untuk perlindungan diri,” ujar pria asal Kelurahan Madyopuro, Kecamatan Kedungkandang itu.
Gas air mata yang beberapa kali ditembakkan juga berimbas pada RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang. Beberapa gas dikabarkan masuk ke Instalasi Gawat Darurat (IGD). Membuat beberapa pasien harus dipindahkan. ”Iya, memang ada gas air mata yang sempat masuk area rumah sakit. Tapi dipastikan tidak ada pasien yang terdampak langsung,” ujar Kasubbag Hukum, Humas, dan Pemasaran RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Donny Iryan Vebry Prasetyo.
Setelah kejadian itu, dia menyebut ada 17 demonstran yang harus dilarikan ke IGD RSSA. Sebanyak 15 demonstran di antaranya langsung diperbolehkan pulang. Sementara dua lainnya masih menjalani rawat inap di RSSA. Namun, pihak rumah sakit belum bisa menerangkan lebih lanjut terkait detail luka yang diderita demonstran.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Malang, massa bisa dipukul mundur sekitar pukul 24.00. Saat itu, jalan sepanjang 500 meter di depan Polresta Malang sudah steril dari massa. Demonstran berpindah ke sejumlah titik untuk melanjutkan tuntutan. Ada yang mengarah ke Jalan Letjen Sutoyo, Kajoetangan, hingga ke Alun-Alun Merdeka.
Massa baru selesai melakukan aksi sekitar pukul 03.00 dini hari. Dari 16 pos polisi yang ada di Kota Malang, 13 di antaranya mengalami kerusakan di bagian jendela. Tiga pos lainnya dibakar massa. Yaitu Pos Polisi di Alun-Alun Merdeka, Pos Polisi Jalan Bandung, dan Pos Polisi Kasin.
Kapolresta Malang Kota Kombes Pol Nanang Haryono menjelaskan, pihaknya terpaksa menembakkan gas air mata karena massa mulai agresif. ”Kami sudah bertahan tiga jam sejak pukul 7 malam, kalau tidak ditembak gas air mata, kantor kami yang dibakar,” kata dia. Sebelum berujung ricuh, Nanang sempat turun langsung menemui massa.
Dia didampingi Pangdivif 2 Kostrad Mayjen TNI Susilo, Danrem 083/ Baladhika Jaya Kolonel Inf Kohir, serta Dandim 0833 Kota Malang Letkol Inf Moh. Alharidz Unus. Ungkapan duka cita mendalam dan permohonan maaf atas peristiwa yang menimpa Affan Kurniawan di Jakarta juga sudah dia sampaikan.
Upaya persuasif meredam amarah massa sudah dilakukan. Sayangnya, semakin malam kondisinya semakin tak kondusif. Polresta Malang Kota sempat mengamankan 61 demonstran. Sebanyak 21 di antaranya merupakan anak di bawah umur. Kemarin (30/8), semua anak-anak itu sudah dipulangkan. ”Kami masih memproses 40 warga yang diamankan,” paparnya. Apabila terbukti bersalah melakukan vandalisme dan perusakan, mereka akan diproses hukum lebih lanjut.
Nanang juga menyebut ada empat anggota polisi yang terluka. Satu anggota mengalami luka di bagian kepala. Anggota kedua mengalami dislokasi di kaki sebelah kanan. Sementara anggota ketiga mengalami luka di bagian mulut. Sedangkan anggota keempat mengalami patah tulang kanan. (aff/by)
Editor : A. Nugroho