MALANG KOTA – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mematangkan wacana perubahan trayek angkutan perkotaan (angkot). Dalam waktu dekat, Wali Kota Malang Wahyu Hidayat akan menerbitkan perwali penataan trayek angkot. Trayek baru tersebut akan diintegrasikan dengan pengoperasian bus Trans Jatim.
Seperti diberitakan, ada lima trayek angkot yang akan diubah. Di antaranya trayek Madyopuro - Mulyorejo (MM), Mulyorejo - Klayatan-Sukun (MK), Landungsari – Gadang - Terminal Hamid Rusdi (LH), dan Terminal Hamid Rusdi – Gadang - Terminal Landungsari (HL). Selain itu, juga mengubah trayek Terminal Landungsari – Dinoyo – Gadang – Terminal Hamid Rusdi (LDH).
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang Widjaja Saleh Putra mengatakan, penataan angkot memerlukan regulasi. Untuk itu, saat ini masih dibahas perwali. Nantinya penataan trayek tercantum pada dokumen Tatanan Transportasi Lokal (Tatralok).
Tatralok merupakan instrumen yang wajib dimiliki oleh setiap daerah. Dokumen ini berfungsi sebagai rencana induk mulai dari pola pelayanan, jaringan transportasi, hingga infrastruktur pendukung. "Untuk Kota Malang, kami siapkan dalam bentuk Perwali supaya jelas dan kuat,” jelas Jaya.
Dia menerangkan, penataan trayek tidak bisa langsung dilakukan kepada semua jalur. Dishub akan menerapkan secara bertahap. Untuk prioritas awal, trayek yang akan ditata merupakan bersinggungan langsung dengan bus Trans Jatim.
Lima trayek itu direncanakan sebagai feeder bus Trans Jatim. Sehingga tak saling tumpang tindih di jalan. Sebaliknya, bisa saling mengisi. "Bus Trans Jatim termasuk dalam tatralok. Kami pastikan angkot tidak tersisih, akan diberdayakan untuk feeder," tandas pria kelahiran Ambon itu.
Yang memprihatinkan, dia melanjutkan, jumlah trayek angkot terus menyusut. Dari total 25 trayek, kini hanya 18 trayek yang bertahan. Sementara armada yang dinilai masih layak beroperasi sekitar 60 persen. “Penyusutan karena kondisi armada (tidak layak) maupun permintaan (sepi penumpang),” terang Jaya.
Terpisah, Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Malang Dito Arief Nurakhmadi memberikan catatan terkait penataan trayek. Dari keluhan yang dia tampung, ternyata rencana ini belum sampai kepada para sopir angkot. Dengan fakta itu, dewan mendesak dishub segera melakukan sosialisasi.
Dito mengkhawatirkan, ketika bus Trans Jatim beroperasi, masih ada penolakan dari sopir angkot. Untuk itu perlu kebijakan yang juga memperhatikan kondisi mereka. "Jangan sampai adanya Trans Jatim berdampak negatif kepada sopir angkot. Masih ada beberapa warga yang menggantungkan hidupnya pada angkot," tegasnya. (adk/dan)
Editor : A. Nugroho