Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Cerita Spectra, Kafe yang Memberi Ruang bagi Penyandang Disabilitas

Aditya Novrian • Kamis, 23 Oktober 2025 | 17:39 WIB
INKLUSIF: Seorang barista tunarungu di Kafe Cerita Spectra melayani pelanggan menggunakan bahasa isyarat. Pengelola kafe melibatkan tiga penyandang disabilitas dalam kegiatan operasional sehari-hari.
INKLUSIF: Seorang barista tunarungu di Kafe Cerita Spectra melayani pelanggan menggunakan bahasa isyarat. Pengelola kafe melibatkan tiga penyandang disabilitas dalam kegiatan operasional sehari-hari.

Tiap Bulan Rutin Berkumpul untuk Sharing.

Cerita Spectra bukan sekadar tempat menikmati kopi. Di kafe kecil itu, penyandang tunarungu dan autis bekerja bersama rekan yang lain dalam suasana yang tenang dan saling memahami. Dari interaksi sederhana setiap hari, tumbuh cerita tentang kerja, kesetaraan, dan keberanian untuk membuka ruang bagi semua.

 

SUARA musik lembut mengalun pelan di Cerita Spectra. Tak ada panggilan keras memesan minuman, hanya tangan-tangan yang menari di udara menyampaikan pesan lewat bahasa isyarat.

Di tempat ini, cara memesan minuman tak melulu dengan kata-kata. Pengunjung bisa menyebutkan pesanan seperti biasa atau menyampaikannya melalui bahasa isyarat. Sebab, tiga dari tujuh karyawan Cerita Spectra adalah penyandang disabilitas.

Seorang barista tunarungu biasa bertugas di kasir atau melayani tamu. Sementara dua remaja autis bekerja di dapur membantu menyiapkan makanan dan menjaga kebersihan. Mereka bekerja dengan ritme yang tenang, tertib, dan sabar, seolah setiap gerak tangan mengandung cerita.

Cerita Spectra berdiri pada akhir 2024 berawal dari impian Sri Retno Yuliani atau yang akrab disapa Yuli untuk menciptakan ruang kerja yang benar-benar inklusif. Sebagai psikolog yang telah lama bergelut di dunia autisme sejak 2001, Yuli tahu bahwa teman-teman disabilitas membutuhkan ruang aman untuk tumbuh dan berdaya.

”Sejak awal kami sudah tahu risikonya besar. Tapi kalau tidak ada yang mulai, inklusi hanya akan jadi wacana,” ujarnya.

Suasana kafe memang berbeda dari tempat nongkrong kebanyakan. Tidak riuh, tidak penuh teriakan pesanan. Justru sunyi yang terasa menenangkan. Banyak pengunjung memilih menggunakan bahasa isyarat, membuat suasana kafe terasa damai tapi hidup. Beberapa duduk berkelompok membahas pekerjaan, lainnya menyendiri di pojok, menatap layar laptop dengan serius.

Di sudut kiri kafe, terpajang hasil karya para penyandang disabilitas. Mulai kain batik, topeng Malangan, gelang dan cincin dari manik-manik berwarna-warni. Semuanya buatan tangan, dijual dengan harga terjangkau. Sementara di sisi kanan, panggung kecil berdiri menanti grup musik teman-teman tunanetra bernama Anak Bangsa.

Dari panggung itulah, suara mereka mengisi ruangan yang sebelumnya hening, membuktikan bahwa seni dan ekspresi tak mengenal batas fisik. Menjalankan kafe inklusi tentu tidak mudah. Yuli harus belajar banyak hal, terutama tentang cara berkomunikasi dan memberi arahan kepada karyawan berkebutuhan khusus.

Tidak ada bentakan, tidak ada pemotongan gaji sebagai hukuman. Setiap kesalahan dihadapi dengan bimbingan personal. ”Kalau mereka salah, saya tegur pelan, lalu saya jelaskan lagi. Yang penting mereka merasa dihargai,” ujarnya lembut.

Untuk dua karyawan autis, Yuli membuat to do list atau daftar tugas khusus yang berisi panduan kegiatan harian. Di kertas itu tertulis langkah-langkah sederhana. Datang, absen, menata meja, membersihkan lantai, membantu dapur. Semuanya diberi kolom checklist agar mereka tahu apa yang sudah diselesaikan.

”Bahasanya harus sederhana. Kalau terlalu rumit, bisa disalahartikan. Tapi kalau sudah paham aturannya, mereka patuh luar biasa,” jelasnya.

Meski sudah terbiasa dengan karakter anak autis, Yuli mengaku masih terus belajar. Setiap hari selalu ada hal baru yang ia temukan tentang cara berpikir, kebiasaan, dan pola kerja karyawannya. ”Mereka mungkin kurang peka terhadap hal-hal kecil, tapi mereka sangat konsisten. Kalau sudah punya aturan, mereka pegang teguh,” ujarnya sambil tersenyum.

Komunikasi menjadi tantangan terbesar di Cerita Spectra. Bagi karyawan tunarungu, memahami gerak bibir atau ekspresi wajah adalah kunci. Sedikit saja salah persepsi, bisa menimbulkan kebingungan.

Karena itu, Yuli mendorong seluruh tim, termasuk karyawan non-disabilitas untuk saling belajar bahasa isyarat dan memahami ritme kerja satu sama lain. Ia juga terus mencari metode coaching yang efektif agar kesehatan mental semua karyawan tetap terjaga.

Setiap bulan, seluruh kru Cerita Spectra berkumpul dalam sesi berbagi. Mereka duduk melingkar, bercerita tentang pengalaman, kendala, atau sekadar meluapkan perasaan. Kadang ada tawa, kadang juga air mata.

”Di situ kami belajar empati. Karena kalau tidak saling memahami, kafe ini tidak akan berjalan,” kata Yuli.

Kini, hampir setahun sejak dibuka, Cerita Spectra semakin dikenal. Setiap malam, hampir semua kursi terisi, delapan puluh persen di antaranya pengunjung difabel. Mereka datang bukan hanya untuk menikmati kopi, tapi juga untuk merasakan suasana yang ramah dan aman. Tempat ini menjadi ruang pertemuan, tempat berbagi, dan bukti bahwa inklusi bisa benar-benar hidup dalam keseharian.

Bagi Yuli, keberhasilan Cerita Spectra bukan diukur dari omzet, melainkan dari senyum para pekerjanya. Di tengah dunia yang sering menilai dari kesempurnaan, kafe kecil ini menunjukkan bahwa keberagaman bisa dirayakan tanpa suara keras, tapi dengan hati yang hangat. Dan di setiap gelas kopi yang tersaji di Cerita Spectra, tersimpan cerita bahwa keheningan pun bisa menjadi bahasa tentang cinta, penerimaan, dan harapan. (*/adn)

Editor : A. Nugroho
#kafe #disabilitas #malang